Pelanggaran Protokol Kesehatan Meningkat

Tim yustisi menggelar razia masker di depan RSUD Kota Mataram, Kamis, 7 Januari 2021. Jumlah pelanggaran harian protokol kesehatan mengalami peningkatan. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Satpol PP bersama Dinas Perhubungan, TNI dan Polri kembali menggencarkan razia masker di sejumlah titik di Kota Mataram. Jumlah pelanggaran protokol kesehatan (prokes) meningkat drastis. Pelonggaran aktivitas sosial diduga jadi pemicu.

Razia masker dilaksanakan selama tiga hari sejak Selasa (5 Januari 2021) – Kamis  (7 Januari 2021) terdapat 106 pelanggaran. Hanya sebagian kecil pelanggar membayar sanksi denda atau 27 orang. Sedangkan sisanya 79 orang memilih melaksanakan sanksi sosial. Jumlah pelanggaran harian menurut Kepala Bidang Trantibum Satuan Polisi Pamong Praja Kota Mataram, M. Israk Tantawi semakin meningkat. Dia menyebutkan, di tanggal 6 Januari saja terdapat 56 orang terkena razia. “Jumlah pelanggaran semakin meningkat,” kata Aank, sapaan akrabnya dikonfirmasi, Kamis, 7 Januari 2021.

Iklan

Penegakan disiplin prokes hari ini (kemarin, red) dilaksanakan di depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram. Dan, satu titik dilaksanakan oleh tim gabungan dari Pemprov NTB.

Pelaksana tugas (Plt) Komandan Satpol PP Kota Mataram, Lalu Martawang menyampaikan, tim yustisi sengaja tidak menjadwalkan penegakan disiplin atau razia masker untuk menghindari kebocoran informasi. Jika dipublis maka warga yang enggan disiplin menerapkan protokol kesehatan akan menghindar. “Pokoknya bergerak saja dan terus dilakukan penegakan disiplin,” kata Martawang.

Razia masker sebagai salah satu cara pemerintah mengingatkan masyarakat bahwa Coronavirus Disease atau Covid-19 masih ada di sekitar. Oleh karena ini, pemerintah berupaya meminta masyarakat mentaati prokes sebagai bentuk pencegahan. Seperti menggunakan masker, mencuci tangan menggunakan sabun serta menghindari kerumunan.

Martawang menegaskan, pihaknya tidak akan mengendorkan penegakan disiplin. Kasus baru positif Covid-19 terus mengalami peningkatan. Peningkatan kasus ini diduga dipicu kecenderungan masyarakat abai menerapkan prokes. “Memang ada kecenderungan masyarakat abai terhadap protokol kesehatan,” tandasnya.

Dikatakan, jangan sampai terjadi outbreak, sehingga fasilitas kesehatan tidak mampu menampung kembali pasien terpapar virus corona. Dalam hal pencegahan sambung Martawang, tidak bisa semata – mata diserahkan ke masyarakat. Seluruh stakeholder harus berada dalam satu gerakan sama untuk mencegah penularan. “Meskipun sudah divaksin harus tetap menerapkan protokol kesehatan,” demikian kata dia. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional