Pelaku Wisata Dorong Jembatan Lombok-Sumbawa Direalisasikan

Anita Achmad (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pelaku wisata NTB meyakini keberadaan jembatan Lombok – Sumbawa akan memberikan imbas luar biasa terhadap pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Pulau Sumbawa. Untuk itu, para pelaku wisata mendorong agar rencana pembangunan jembatan sepanjang 16 kilometer (Km) tersebut dapat direalisasikan.

Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Anita Achmad mengatakan Pulau Lombok dan Sumbawa memiliki destinasi wisata yang sangat cantik dan alami yang tidak dimiliki oleh negara-negara lainnya di dunia. Tetapi persoalan aksesibilitas dan sumber daya manusia (SDM) masih menjadi kendala. Terutama untuk mempercepat pengembangan sektor pariwisata di Pulau Sumbawa.

Iklan

‘’Harga barang yang dulunya diangkut  lewat pelabuhan jauh lebih mahal. Mungkin bisa berkurang dengan adanya jembatan tersebut. Pertama menaikkan pertumbuhan ekonomi karena kunjungan orang banyak. Kemudian meringangkan harga. Karena imbasnya keberadaan jembatan ini  luar biasa,’’ kata Anita dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 12 Juni 2019 siang.

Ia mengatakan, keberadaan jembatan penghubung Pulau Lombok dan Sumbawa akan sangat bagus apabila bisa diwujudkan. Artinya, keberadaan jembatan tersebut akan berdampak terhadap semakin berkembangkan sektor pariwisata di Pulau Sumbawa.

‘’Dan itu harus didukung. Karena semua akan lebih murah, lebih lancar karena akses dibuka. Karena orang berwisata, dia melihat akses ke sana,’’ katanya.

Pemilik Hotel Grand Legi Mataram ini menjelaskan, wisatawan yang datang ke suatu destinasi wisata akan melihat akses menuju ke sana. Apakah bisa dilalui lewat penerbangan langsung atau transit. Jika penerbangan menuju suatu destinasi wisata harus transit, maka akan dicari akses transportasi lainnya.

Artinya, ada pilihan wisatawan untuk berkunjung ke suatu destinasi wisata. Sehingga ia melihat rencana pembangunan jembatan Lombok – Sumbawa cukup positif. Apalagi, jika jembatan tersebut terbangun, Lombok – Sumbawa ditempuh selama 15 menit.

‘’Selama itu memang wacananya itu dan layak, maka bagus dan harus didukung. Karena bisa menggenjot sektor pariwisata di Pulau Sumbawa. Kalau tak ada schedule untuk penerbangan, dia bisa melalui darat, kan lebih mudah,’’ katanya.

Anita melihat salah satu kendala pengembangan sektor pariwisata di Pulau Sumbawa adalah persoalan aksesibilitas atau infrastruktur. Jika akses mudah, ia yakin akan semakin banyak orang yang berkunjung ke destinasi-destinasi wisata yang ada di Pulau Sumbawa.

Persoalan kedua, menurutnya masalah SDM. Dikatakan, SDM pariwisata NTB harus berbenah. Mindset para pelaku wisata dan masyarakat harus dibuat benar. Menurutnya, tamu adalah rezeki. Sehingga para pelaku wisata dan masyarakat harus memberikan pelayanan terbaik kepada setiap wisatawan yang datang ke NTB.

‘’Kalau tamu adalah  rizeki, maka mindset akan timbul. Seperti Bangkok punya wisatawan 40 juta setahun. Saya melihat Amerika, Timur Tengah, India. Bangkok itu harga oleh-oleh sangat murah, tidak ada ribut di sana. Tak pernah kita disamperin oleh pedagang,’’ ungkapnya.

Menurutnya, Bangkok dapat menjadi contoh bagi NTB. Karena di sana, wisatawan yang berkunjung tidak pernah ada pedagang yang memaksa menjual oleh-oleh kepada pengunjung. Bahkan harga barang atau oleh-oleh sangat murah.

‘’Persoalan infrastruktur menjadi kendala. Kita punya destinasi yang sangat cantik sekali. Kita sangat mendorong rencana pembangunan jembatan ini terwujud, dibuat akses ke sana,’’ tandasnya.

Seperti diketahui, perusahaan asal Korea sudah melakukan pre-feasibility study (pre-FS) atau pra studi kelayakan akhir 2018. Hasil pre-FS yang dilakukan, rencana pembangunan jembatan Lombok – Sumbawa layak secara teknis. (nas)