Pelaku Usaha Dorong Peresmian Jalur Pendakian Torean Rinjani

Jalur Torean berkabut saat petugas TNGR dan tim gabungan melakukan survei sebelum dikaji  kelayakannya untuk jadi jalur resmi. (Suara NTB/ist_TNGR)

Mataram (Suara NTB) – Pelaku usaha pariwisata mendukung rencana Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) untuk melegalkan jalur pendakian rute Torean. Pasalnya, rute tersebut diakui memiliki banyak potensi dan kelebihan dibandingkan dengan empat jalur resmi yang sudah ada saat ini.

“Kita sangat rekomendasikan itu, karena akses yang lumayan terjangkau dalam artian kalau mau ke danau Segara Anak hanya butuh waktu 6-8 jam,” ujar pemilik Lombok Poenya Tour and Travel, Lalu Alfian Kholik.

Iklan

Diterangkannya, jalur pendakian tersebut telah banyak dimanfaatkan oleh pelaku usaha agen perjalanan sejak 2013 silam. “Kalau saya secara pribadi sebagai pengusaha dan penikmat gunung sudah naik lewat jalur ini sejak 2007,” sambungnya.

Diterangkan Alfian, keamanan jalur tersebut tidak perlu dipertanyakan lagi. Secarama umum, jalur Torean telah dimanfaatkan oleh umat Hindu untuk membawa sajen pada kegiatan di Segara Anak.

Selain itu, panorama alam dan penampakan hewan endemik Rinjani seperti lutung, kijang, dan lain-lain.

“Ini sangat berpotensi kalau diresmikan, agar masyarakat sekitaran Desa Torean juga dapat merasakan imbas dari terbukanya jalur tersebut,” ujar Alfian.

Selama melakukan aktivitas kepariwisataan di jalur tersebut, Alfian menerangkan pihaknya selalu memberikan penawaran pada wisatawan yang bebas memilih sendiri.

Hal itu dilakukan mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi selama jalur Torean masih belum dilegalkan oleh pihak pengelola, dalam hal ini BTNGR. Dicontohkannya, seperti penawaran untuk mencapai danau dengan estimasi waktu yang lebih singkat dengan pemandangan yang disebut lebih indah dari empat jalur lainnya.

“Kalau ingin estimasi waktu yang mudah dan singkat untuk ke danau, serta melihat keindahan Rinjani, kita tawarkan jalur Torean, tapi untuk yang ingin top summit (mendaki sampai puncak), kita tawarkan jalur Sembalun,” ujar Alfian.

Legalitas jalur Torean sangat diharapkan oleh pelaku wisata. Diterangkan Alfian, pihaknya banyak pendaki yang terbantu dengan adanya jalur Torean, khususnya bagi yang ingin menuju danau Segara Anak tanpa harus melakukan pendakian ke puncak.

Jumlah tamu yang lebih memilih jalur Torean daripada jalur Sembalun, Senaru, Aik Berik, ataupun Timbanuh disebut Alfian mencapai 30 persen. Hal itu diharapkan dapat menjadi pertimbangkan pihak BTNGR dalam melegalisasi jalur Torean.

“Memang sekarang jalurnya masih dibilang ilegal, jadi kalau ada apa-apa seperti kecelakaan kecil, kami mungkin tidak bisa meminta bantuan ke pihak terkait,” ujarnya.

Sebelumnya BTNG telah melakukan survei bersama tim gabungan untuk mengecek jalur pendakian Torean. Survei yang dilaksanakan awal Februari lalu tersebut akan dijadikan dasar penataan dan perbaikan jalur jika diputuskan dilegalkan.

Survei dilakukan melalui danau Segara Anak, menyusuri sungai Kokok Putih, hingga turun melewati lembah di jalur tropis Torean.

Kepala BTNGR, Dedy Ashriady, menerangkan pihaknya akan mempertimbangkan pelegalan jalur tersebut sebagai alternatif tambahan dari empat jalur resmi yang telah ada.

“Hasil survei akan dirapatkan terlebih dahulu sebagai bahan pertimbangan untuk dibukanya jalur Senaru –  Torean. Keputusan pembukaan jalur akan melibatkan stakeholder terkait,” ujar Dedy.

Selain survei jalur Torean, dilakukan juga survei umum untuk empat jalur yang sudah ada.

Pemeriksaan jalur dilakukan untuk memastikan beberapa titik longsor, kerusakan, dan lain-lain pascagempa 2018 lalu. Mempertimbangkan hal tersebut, maka pelegalan jalur pendakian Torean disebut masih membutuhkan waktu.

“Jadi masih panjang ceritanya.  Setelah survei, kemungkinan perbaikan, survei lagi. Baru setelah ini kita pastikan apakah akan dibuka atau tidak,” ujar Dedy.

Keputusan dari pengecekan lima jalur tersebut akan didasarkan pada kesepakatan dengan berbagai pihak, diantaranya Denzibang 2/IX Mataram, Resort Senaru, Asosiasi TO Lombok Utara, Asosiasi TO Lombok Tengah, DPH UGG Rinjani-Lombok, KUN Humanity Sistem. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here