Pelaku Pidana Penyakit Masyarakat Makin Menjamur

Kiri ke kanan – Kasatresnarkoba Polresta Mataram Made Yogi Purusa Utama, Kapolresta Mataram Heri Wahyudi, dan Kasatreskrim Polresta Mataram Kadek Adi Budi Astawa, Senin, 12 April 2021 menunjukkan barang bukti hasil Operasi Pekat Rinjani 2021.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Pelaku pidana penyakit masyarakat (Pekat) di masa pandemi Covid-19 ini makin menjamur. Sebanyak 573 tersangka ditangkap sepanjang dua pekan pelaksanaan Operasi Pekat Rinjani 2021. Capaian ini meningkat dibandingkan hasil operasi yang sama yang digelar tahun sebelumnya.

Karo Ops Polda NTB Kombes Pol Imam Thobroni menjelaskan Operasi Pekat ini menyasar tindak pidana prostitusi, perjudian, dan minuman keras (Miras). “Total kasus yang kita ungkap ada 469 kasus,” terangnya, Senin, 12 April 2021 didampingi Dirreskrimum Polda NTB Kombes Pol Hari Brata dan Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto.

Iklan

Rinciannya kasus Miras menjerat 418 tersangka dari 392 kasus, prostitusi atau pelacuran menjerat 18 tersangka dari 18 kasus, dan perjudian yang menyeret 135 tersangka ke penjara dari 59 kasus. “Operasi ini untuk menjamin pelaksanaan ibadah pada bulan Ramadhan dapat berjalan kondusif,” terangnya.

Hari Brata mengatakan, kasus prostitusi online menjadi salah satu kasus menonjol. Mahasiswi asal Jakarta berinisial CT alias CM (25) ditangkap karena diduga menjual jasa birahi di salah satu hotel berbintang di Mataram. “Mereka ini berjaringan,” ucapnya.

 

Polresta Mataram Ungkap 161 Kasus

Sementara Polresta Mataram mengungkap 161 kasus Pekat. Rinciannya 142 kasus Miras, enam kasus prostitusi, dan 13 kasus perjudian. “Dibandingkan tahun 2020, pengungkapan kasus tahun ini meningkat 270 persen,” kata Kapolresta Mataram Kombes Pol Heri Wahyudi di tempat terpisah.

Sepanjang Operasi Pekat ini disita barang bukti mesin dingdong, ayam aduan, kupon togel, uang tunai Rp12,18 juta, kartu ATM, buku tabungan, pakaian seksi, alat kontrasepsi, dan ratusan botol Miras berbagai jenis. Heri mengatakan, para pelaku ini menggunakan berbagai modus, diantaranya kasus judi yang menggunakan mesin dingdong dengan hadiah boneka. Yang mana ukuran boneka menentukan nilai hadiah. Kemudian kasus miras, para pelakunya berjualan di rumah dan menyediakan tempat mabuk. Sementara kasus prostitusi dijalankan dengan modus pemesanan via ponsel dan aplikasi pesan instan. (why)

Advertisement ucapan idul fitri ucapan idul fitri ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional