Pelaku Pariwisata Keluhkan Akses dan Fasilitas Destinasi

Mataram (Suara NTB) – Pelaku pariwisata sebagai salah satu yang memberikan pelayanan kepada wisatawan kerapkali mendapatkan keluhan. Terutama soal akses, fasilitas hingga kebersihan destinasi wisata. Tidak sedikit dari pelaku pariwisata yang juga mengeluhkan hal tersbut. Sebab dianggap sebagai salah satu hal yang membuat wisatawan merasa tidak nyaman selama berlibur ke NTB.

“Kita ini sudah punya destinasi yang bagus, tapi kotor karena sampah tidak diurus dengan baik. Selain itu fasilitas juga minim, kalaupun ada itu tidak terawat. Belum lagi akses yang belum memadai di beberapa destinasi,” kata pelaku pariwisata asal Kota Mataram Beri Putra kepada Suara NTB, di Mataram, Jumat, 7 April 2017.

Iklan

Selama ini ia selalu mendapatkan keluhan dari wisatawan, sementara ia tidak dapat berbuat banyak. Sebab pengelolaan merupakan kewenangan dari pemerintah daerah. Menurutnya memang perlu adanya pembenahan pada banyak sisi di sektor pariwisata.

“Pada akhirnya wisata kita dibeda-bedakan dengan wisata di daerah lain yang bersih, toiletnya memadai, akses jalan bagus dan banyak lainnya. Ini menjadi nilai kurang untuk kita, padahal kita punya sumber daya alam yang bisa dibilang sangat bagus jika dibandingkan tempat lain,” ujarnya.

Beberapa destinasi yang dianggap masih belum bagus aksesnya yaitu Pantai Pink, Pantai Tanjung Aan, Tanjung Ringgit, Pantai Semeti dan lain-lain. Menurutnya perlu perbaikan aksesibilitas dan penambahan fasilitas. Misalnya dibangun musholla dan toilet di beberapa titik menuju destinasi itu.

“Kita kadang numpang di rumah makan atau hotel yang kita lewati saat wisatawan ingin ke toilet atau mau shalat. Karena di sepanjang jalan itu tidak ada toilet maupun musholla. Jadi ini sangat penting dan harus segera dibangun,” kata pelaku pariwisata asal Lombok Timur Hendri Jaya.

Ia melihat persoalan akses ini harus menjadi prioritas utama pemda. Disamping persoalan kebersihan yang diaggap masih kurang. Menurutnya dua hal ini merupakan nyawa dari pariwisata. Sebab itu merupakan penentu wisatawan merasa senang dan betah atau tidak selama berkunjung.

“Kalau mereka senang pasti mereka ingin kembali lagi. Tapi kalau sudah merasa tidak nyaman, jangankan kembali lagi, dia juga pasti menyarankan temannya untuk tidak datang. Itu kerugian yang kita dapat apabila wisatawan merasa tidak nyaman atau tidak puas dengan destinasi dan pelayanan kita,” tandasnya. (lin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here