Pelaku Ekonomi di Bandara Keluhkan Menurunnya Omzet

Suasana lengang di LIA, Jumat, 30 November 2018 kemarin. Gempa yang melanda NTB beberapa waktu lalu, masih menyisakan dampak ekonomis yang cukup dirasakan oleh warga NTB. Hal ini dipicu belum pulihnya angka kunjungan wisatawan ke NTB. (Suara NTB/aan)

Praya (Suara NTB) – Serangkaian gempa yang melanda NTB beberapa waktu lalu, masih menyisakan dampak ekonomis yang cukup dirasakan oleh warga NTB. Hal ini dipicu belum pulihnya angka kunjungan wisatawan ke NTB. Akibatnya, mereka yang menggantungkan hidup dari sektor transportasi, pariwisata dan perdagangan menjadi kelompok masyarakat yang paling terpukul oleh kondisi pascagempa.

Bandar Udara Internasional Lombok misalnya. Di sini, ada ratusan warga NTB yang menggantungkan mata pencahariannya dari tinggi rendahnya hilir mudik pengguna moda transportasi di bandara.

Iklan

Lalu Setiawan (32) adalah salah seorang di antara warga yang masih merasakan dahsyatnya guncangan ekonomi pascagempa ini.

Pria asal Lombok Tengah ini, sehari-hari berprofesi sebagai penyedia jasa transportasi bandara bagi para pelancong yang datang ke NTB. Menurutnya, sebelum gempa, ia bisa mengantongi pendapatan yang sangat besar.

Dulu, setiap harinya, Lalu Setiawan bisa mendapatkan tiga kali pesanan mengantar penumpang dengan ongkos normal, antara Rp250 ribu hingga Rp300 ribu dari bandara ke kawasan Senggigi. “Kadang sampai (Pelabuhan) Bangsal, bisa sampai Rp500 ribu. Belum dihitung kalau dapat tips dari boat, dapat Rp300 ribu sampai Rp400 ribu tipsnya,” sebutnya saat diwawancarai Suara NTB, Jumat, 30 November 2018.

Dengan kondisi yang demikian, praktis dulunya ia bisa mengantongi pemasukan di kisaran Rp1 juta setiap hari. ‘’Sebulan kita bisa nabung bersih itu, Rp8 juta sampai Rp9 juta. Itu bersih, setelah dipotong cicilan mobil, dipotong kebutuhan rumah tangga,’’ ujarnya.

Pendapatan Lalu Setiawan bisa semakin besar jika ia bisa mendapatkan pesanan untuk mengantarkan paket tur untuk grup pelancong. “Kalau tur, itu satu grup, paling sedikit itu Rp3jutaan kita dapat,” ujarnya.

Namun, bagi Lalu Setiawan, gempa ternyata memang bukan hanya menimbulkan guncangan pada tanah dan bangunan. Guncangan ekonomi pascagempa masih ia rasakan hingga kini. Saat Suara NTB menemuinya, ia bersama sejumlah rekannya tengah memasang wajah penuh harapan menunggu penumpang yang ingin diantarkan dari bandara.

Lalu Setiawan menyebutkan, selain dirinya, ada ratusan lainnya yang juga merasakan imbas dari menurunnya angka kunjungan wisata NTB ini. ‘’Kalau ditotal, semua termasuk taksi biru, dan lain-lain, ada sekitar 250an unit,’’ sebutnya.

Saat ini, Lalu Setiawan mengakui bahwa penghasilannya anjlok drastis. Ia mengaku, saat ini, dalam tiga hari ia belum tentu bisa mendapatkan satu pelanggan pun. Padahal, ada begitu banyak kewajiban keuangan yang harus ia bayarkan. Mulai setoran koperasi yang mencapai Rp30 ribu, membayar toll gate yang bisa mencapai Rp12 ribu per hari, hingga cicilan mobil dan kebutuhan lainnya.

Karena itulah, ia sangat berharap pemerintah daerah bisa segera memulihkan angka kunjungan wisata ke daerah ini. ‘’Kita sangat ingin bandara ini ramai lagi seperti dulu sebelum gempa,’’ ujar Lalu Setiawan.

Tidak hanya penyedia jasa transportasi yang mengeluhkan kondisi ini. Inaq Rahayu (40), warga Ketare, Lombok Tengah, yang berjualan makanan di sudut barat bandara juga merasakan gejala serupa.

Bersama rekan-rekannya, pagi itu Inaq Rahayu tampak hanya termenung menunggu pembeli yang sepi. ‘’Ini memang lagi sepi, pengunjung ndak ada. Ada pengunjung, tapi ndak belanja. Ada yang belanja, tapi sedikit,’’ keluhnya.

Ia mengakui, kondisi ini memang terjadi sejak gempa beberapa waktu lalu. ‘’Ini sudah tiga bulan kayak begini,’’ ujarnya. Ia menyebutkan, dulunya ia bisa mengantongi keuntungan harian hingga Rp100 ribu. Kini, angka itu menyusut hingga hanya sekitar Rp50 ribu saja. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here