Pelaku Begal asal Lombok Tengah Diduga Sasar Anak Sekolah

Mataram (suarantb.com)Ditreskrimum Polda NTB berhasil menangkap seorang yang diduga pelaku begal. Pelaku diketahui berinisial M (36), ditangkap di lokasi Sekotong Lombok Barat (Lobar) sekitar pukul 01.00 Wita, Senin, 8 Agustus 2016.

Panit 1 Unit 1 Subdit 3 Jatanras Ditreskrimsus Polda NTB, AKP Tauhid saat melakukan konferensi pers terkait penangkapan pelaku dengan didampingi Kasubdit Penmas, Kompol I Dewa Gria mengatakan pelaku  bersama rekannya berinisial D melakukan kejahatan begal pada Februari 2015. Pelaku D diketahui merupakan residivis dalam kasus yang sama, dan telah lama ditangkap. Sementara pelaku M yang sejak dulu DPO, kini berhasil ditangkap.

“Pelaku berinisial M asal Lombok Tengah. Yang bersangkutan melakukan kejahatan bersama dengan temannya atas nama D yang saat ini menjalani hukuman di Lapas Praya,” ujarnya, Selasa, 7 Agustus 2016.

Modus yang digunakan pelaku menurut Tauhid, yakni dengan cara menunggu korbannya yang relatifnya adalah anak-anak sekolahan di lokasi yang sepi. Pelaku juga tidak segan-segan untuk melukai korbannya jika melawan.

“Karena tempat ngetemnya di tempat yang sepi, mereka mengejar korbannya. Kemudian memepet dan menendang motor korban. Bahkan tidak segan-segan melukai (korban). Mereka sudah siap dengan senjata tajamnya. Sasarannya anak-anak, bahkan indikasinya bisa pada orang asing,” ungkapnya.

Tauhid menjelaskan, pelaku saat beraksi beberapa bulan lalu mengincar seorang gadis yang masih duduk di bangku sekolah. Ketika menemui korbannya, pelaku menodongkan senjata ke arah korban. Namun aksinya gagal karena korbannya berteriak.

“Korban akhirnya berteriak minta tolong pada warga. Pelaku sempat mengambil motor, namun karena dikejar oleh warga pelaku kabur. Dalam pelarian mereka (pelaku) terjatuh. Kejadian tersebut di Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah,” tambahnya.

Pelaku M mengatakan bahwa dirinya baru pertamakali melakukan kejahatan tersebut. Namun Pihak Kepolisian tidak mudah meyakininya. Ke depannya, pihak kepolisian akan melakukan pengembangan terhadap kasus tersebut. Sementara kondisi korban hingga saat ini masih trauma akibat tindakan kriminal yang dialaminya.

Tauhid mengimbau agar orang tua tidak mudah memberikan fasilitas kendaraan bermotor pada anak, karena bisa jadi mereka akan menjadi target begal. Orang tua dianjurkan untuk melakukan antar – jemput terhadap anak-anak mereka.

“Imbauan kami, peran orang tua diharapkan untuk jaga anak. Jangan memberikan fasilitas yg berlebihan. Sekiranya anak-anak mereka diantar langsung oleh orang tua. Atau saat hendak pulang sekolah, hendaknya bersama teman lainnya, jadi bisa saling backup. Kasus ini, mereka (korban) seorang diri, jadi gampang dibuntuti,” imbaunnya.

Sementara itu, pelaku diancam dengan pasal 365 ayat (1) dan ayat (2) ke 2 KUHP, dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara. (szr)