Pelaksanaan Program Perpustakaan KLU Terkendala Covid-19

Salah satu kegiatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan KLU di masa pandemi dengan menerapka protokol kesehatan. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Mewabahnya Coronavirus Disease (Covid-19) tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, sosial, pariwisata dan lainnya di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Covid-19 juga berdampak pada kegiatan dan pelaksanaan program di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan KLU. Program yang sudah direncanakan dengan matang di tahun anggaran 2019 tidak bisa dilaksakanakan di tahun 2020.

‘’Pelaksanaan kegiatan di tahun 2020 tidak dapat dilaksanakan secara maksimal dikarenakan adanya pemangkasan anggaran untuk Covid-19 baik di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan maupun di desa. Ini menjadi permasalahan kami di lapangan,’’ ungkap Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan KLU Ir. L. Mustain, M.M., dalam sebuah diskusi virtual yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB belum lama ini.

Meski demikian, tambahnya, pihaknya tetap melaksanakan program walau dalam operasionalnya terkendala dana dan pembatasan pertemuan atau kunjungan orang dalam jumlah besar. Selain itu, ungkapnya, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan KLU belum memiliki gedung representatif untuk memberikan layanan kepada masyarakat, karena gedung yang ada rusak akibat gempa tahun 2018 lalu. Pihaknya masih menggunakan tenda Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sehingga layanan perpustakaan pada pengunjung masih belum maksimal.

Untuk itu, pihaknya pada tahun 2021 mendatang memprioritaskan pembangunan gedung yang layak bagi pengunjung di perpustakaan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Perpustakaan Nasional. Bbegitu juga anggaran yang dipangkas untuk penanganan Covid-19 tahun 2020 dalam melakukan advokasi dengan organisasi perangkat daerah, pihak swasta dan lembaga swadaya masyarakat. ‘’Meski  sekarang kita tahu akibat Covid-19 banyak pelaku pariwisata yang terkena dampaknya. Tapi ini tidak menyurutkan kita dalam memberikan pelayanan pada masyarakat,’’ ujarnya.

Selain memberikan pelayanan baca pada pengunjung perpustakaan, baik di gedung sementara dan desa hingga taman baca, pihaknya juga memberikan pelatihan pada masyarakat. Sebagai contoh, ujarnya, pihaknya melakukan sosialisasi bank sampah, pelatihan tata rias, budidaya lebah madu, diskusi membangun literasi di tengah masyarakat. Tidak hanya itu, pihaknya melakukan pelatihan kerajinan tangan, pemanfaatan kelor, pelatihan komputer dasar dan lainnya.

Dalam memberikan pelayanan pada pengunjung perpustakaan, pihaknya berusaha menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat berbasis teknologi. Hal ini merupakan bagian dari program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Diakuinya, tahun 2018 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan KLU  merupakan salah satu dari 60 kabupaten di 21 provinsi yang memperoleh program transformasi perpustakaan umum berbasis inklusi sosial.

Pada tahun 2019, ujarnya, program tersebut diperluas ke 6 perpustakaan desa, yakni Desa Malaka, Desa Pemenang Barat, Desa Tanjung, Desa Genggelang, Desa Pendua dan  Desa Senaru. ‘’Dan di tahun 2020 memperoleh tambahan 4 perpustakaan desa di antaranya Desa Bentek,  Desa Salut,  Desa Anyar dan Desa Karang Bajo. Namun, pelaksanaannya tidak maksimal, karena ada Covid-19,’’ ujarnya, seraya mengharapkan Covid-19 segera berakhir. (ham)