Pelaksanaan MOS di Mataram Disebut Telah Sesuai Permendikbud

Mataram (suarantb.com) – Pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) di seluruh Kota Mataram disebut telah sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) terbaru.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kota Mataram, Drs. H. Sudenom kepada suarantb.com, Selasa, 19 Juli 2016. “Semua sekolah sudah laksanakan peraturan menteri,” ujarnya.

Pada Senin, 18 Juli 2016, Sudenom langsung turun ke beberapa sekolah untuk memantau pelaksanaan MOS. Berdasarkan hasil pantauannya, tidak ada hal-hal aneh yang ditemukan saat MOS berlangsung. Bahkan beberapa sekolah disebutkan Sudenom mengarahkan para siswa baru melakukan kegiatan sosial.

“Aman, ndak ada yang macam-macam. Saya larang pelaksanaan MOS dengan hal yang aneh-aneh,” jelasnya.

Adanya tanggapan beberapa guru yang menyampaikan bahwa konsep MOS tahun ini kurang memberikan pendidikan mental, Sudenom mengatakan itu hanya pendapat individual. Menurutnya konsep MOS yang diubah Mendikbud tahun ini telah dikaji lama dan dilakukan untuk mengedepankan nilai-nilai edukatif saat pelaksanaan MOS.

Kegiatan sosial juga menurutnya tidak masalah asalkan jangan sampai membebani para siswa baru. Memerintahkan siswa baru membawa benda-benda aneh juga sudah bukan zamannya lagi.

“Anak-anak disuruh bawa ini-itu, dimana mereka mau cari? Hal-hal seperti itu jangan sampai terjadi. Biasa-biasa saja, ini kan zamannya tidak seperti dulu,” ujarnya.

Sudenom juga mengapresiasi para orang tua murid yang mengantarkan langsung anak-anaknya di hari pertama masuk sekolah. Menurutnya hal ini sangat penting sehingga orang tua bisa memahami kondisi anaknya di sekolah. Diharapkan juga muncul kesadaran orang tua bahwa pendidikan jangan hanya dibebankan kepada guru di sekolah, tapi peran orang tua juga sangat penting dalam mendidik anak-anaknya.

“Hubungan orang tua dengan guru juga semakin baik dan guru tidak segan memberikan informasi kepada orang tua jika ada apa-apa di sekolah. Ada rasa memiliki bersama. Pendidikan anak jangan hanya diserahkan saja kepada guru, harus ada komunikasi dengan ortu,” demikian Sudenom. (ynt)