Pekerja Selalu Berganti, Pembuatan Panel Risha Terhambat

BUAT PANEL - Proses pembuatan panel Risha di Kecamatan Sambelia. Aplikator mengakui jika pembuatan panel terhambat, karena pekerja selalu berganti. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Pembangunan hunian tetap (huntap) jenis Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha), hingga saat ini masih menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat korban gempa di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) khususnya di Kecamatan Sambelia. Pasalnya, pembangunan huntap jenis Risha terkesan lambat. Selain itu, pihak aplikator Risha juga hanya bekerja sampai struktur bangunan. Artinya, hasil pengerjaan hanya 50 persen kemudian berhenti sebagaimana kontrak yang ada.

Ditemui Suara NTB, Senin, 17 Desember 2018,  salah satu aplikator Risha, Ahmad Iskandar, mengakui jika progres pembagunan Risha agat terhambat dan terlambat dikarenakan adanya beberapa hambatan teknis. Seperti pekerja yang berganti-ganti. Setelah dilatih selama kurun waktu satu hingga dua minggu, namun pekerja yang dilatih hilang, sehingga harus melatih lagi yang baru dan itu dilakukan berulang-ulang.

Iklan

Kendati demikian, Iskandar siap untuk terus bekerja dengan mengejar ketertinggalan yang terjadi. Salah satunya dengan membuka tiga workshop dengan memasang jumlah pekerja yang cukup banyak, di mana pada workshop yang ketiga ini berjumlah 65 orang yang dibawa langsung dari Banten. Sehingga pada minggu ini, diharapkan dapat keluar empat hingga enam unit rumah dari workshop di Desa Madayin, Pedamekan, dan di Kokok Nangka Desa Belanting Kecamatan Sambelia.

Yang menjadi persoalan juga bahwa pihak aplikator Risha hanya mengerjakan pembangunan sampai struktur bangunan atau pengerjaan yang dilakukan hanya 50 persen. Sementara untuk tembok, genteng dan lainnya dilanjutkan oleh masyarakat itu sendiri sebagaimanan kontrak yang disepakati bersama masyarakat. Artinya pembangunan huntap yang dilakukan oleh aplikator Risha tidak sampai tuntas dengan biaya Rp23,8 juta hingga terpasang struktur. “Kita hanya sampai struktur bangunan. Kita hanya mengikuti setiap proses tahapan yang ada,” ujarnya.

Sehingga inilah yang akan diusulkan ke pemerintah daerah supaya ke depan pembangunan huntap Risha oleh aplikator menjadi satu paket pekerjaan rumah jadi. Terlebih hal itu berdasarkan keinginan masyarakat. Selain itu yang menjadi kendala lainnya, pihak aplikator mengaku sudah membayar 40 rumah lebih ke masyarakat. Namun belum ada satupun dari jumlah itu yang dibayar lunas.

Iskandar mengakui jika selaku aplikator sudah menerima uang muka, akan tetapi uang muka yang diterima itu tidak hanya untuk material melainkan untuk peralatan dan mobilisasi tukang yang tidak terkait langsung dengan material. Untuk menjamin itu berjalan lancar, pembayaran dari pokmas juga diharapkan dapat lancar agar target dapat terpenuhi.

Adapun jumlah huntap Risha yang sudah terpasang saat ini sekitar 41 unit rumah yang terletak di Kecamatan Sambelia disusul dengan produksi yang terus berjalan. Dalam pengiriman panel-panel yang sudah diproduksi itupun diharapkan dapat didukung oleh Pokmas dengan melakukan pembayaran terhadap panel-panel yang sudah terpasang. “Uang muka kemarin Rp10 juta. Setelah terpasang barulah dilunasi. Inilah kita harapkan kerjasama dari pokmas,” terang Iskandar. (yon)