Pedagang Tunggu Revitalisasi Pasar Seni Mataram

Seorang pedagang di Pasar Seni Mataram menunggu pelanggan, Jumat, 27 November 2020 Di tengah pandemi Covid-19 saat ini tingkat kunjungan pelanggan menurun drastis. Realisasi program revitalisasi Pasar Seni Mataram diharapkan dapat memberikan kesan yang lebih representatif untuk bersaing pascapandemi kedepan.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Program revitalisasi Pasar Seni Mataram menjadi salah satu hal yang dinanti-nantikan para pedagang di lokasi tersebut. Terutama sejak pandemi virus corona (Covid-19) berdampak pada tingkat kunjungan pembeli, program revitalisasi diharapkan dapat memberikan kesan yang lebih representatif untuk bersaing pascapandemi.

“Agak sepi semenjak Corona ini. Kalau yang datang sih ada satu dua, tapi kadang sekarang ini ada yang kosong seharian itu. Tidak ada yang datang,” ujar Husnayadi, salah seorang pedagang di Pasar Seni Mataram, Jumat, 27 November 2020. Diterangkan, saat ini dirinya hanya bertahan dengan pesanan dari beberapa pusat oleh-oleh yang menjadi langganannya. “Kita jadi produsen saja sekarang,” sambungnya.

Sembari menanggulangi dampak pandemi Covid-19 dari segi pengelolaan usaha tersebut, dia juga mempertanyakan dukungan pemerintah dengan menghadirkan tempat yang lebih representatif. “Dari 2016 ada rencana perbaikan itu. Sebenarnya bangunan di sini sudah banyak yang perlu direnovasi,” jelasnya.

Husnayadi sendiri telah berjualan di Pasar Seni Mataram sejak 2008 silam. Akibat pandemi Covid-19, dia adalah salah satu yang masih bertahan membuka usaha walaupun sepi pembeli. “Sebenarnya kios-kios yang lain ini ada yang punya semua. Cuma mereka malas buka karena sepi. Kalau hari Jumat begini ya cuma kita yang buka,” ujar pemilik Lya Artshop tersebut.

Menurutnya, jika program revitalisasi Pasar Seni Mataram oleh pemerintah masih lama terealisasi, pihaknya bersedia melakukan perbaikan secara swadaya. “Kalau untuk kios kita sendiri sebenarnya berani kita perbaiki sendiri,” ujarnya. Namun, beberapa fasilitas lainnya justru menjadi pertanyaan besar.

“Misalnya di sini kan ada bangunan untuk restoran, itu kan sudah ditinggal (terbengkalai, Red). Sampai berhenti dia,” ujar Husnayadi. Dengan dilema tersebut, pihaknya berharap ada kejelasan dari pemerintah daerah terkait pemanfaatan Pasar Seni Mataram.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, menerangkan untuk revitalisasi Pasar Seni Mataram memang masih terkendala anggaran. Di fokus pemanfaatan anggaran dari pemerintah pusat saat ini telah diatur untuk pengembangan Taman Loang Baloq.

Diterangkan Denny, pemerintah pusat sebenarnya telah menyalurkan Rp16 miliar lebih untuk penataan destinasi di Kota Mataram. “Sudah kita coba lobi itu supaya bisa dibagi ke Pasar Seni, tapi dari pemerintah pusat tidak bisa,” jelasnya.

Untuk revitalisasi Pasar Seni Mataram sendiri telah diajukan ke Kementerian Pariwisata dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. “Kita mintanya setengah untuk pasar seni, setengah untuk Loang Baloq, tapi ternyata belum bisa,” ujar Denny. Pihaknya berharap dalam penyusunan anggaran kedepan program revitalisasi Pasar Seni Mataram tersebut dapat diakomodir. (bay)