Pedagang Termakan Isu, Stok Bawang Putih Masih 11 Ton

Hj. Putu Selly Andayani (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Lonjakan harga bawang putih yang terjadi saat ini di pasaran bukan lantaran penyetopan masuknya bawang impor asal China akibat virus corona. Pedagang termakan isu, bahkan ada pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan. Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M.Si di Mataram, Selasa, 11 Februari 2020.

Bawang putih dalam beberapa pekan terakhir mengalami kenaikan harga cukup drastis. Bawang putih impor mencapai harga di atas Rp60.000/Kg. Informasi yang beredar, terjadi keterbatasan stok bawang putih yang mengakibatkan pedagang menaikkan harga. Hj. Selly menjelaskan, ia sudah berkoordinasi langsung dengan Kementerian Perdagangan RI, khususnya Dirjen Perdagangan Dalam Negeri.

Iklan

Didapat informasi, tidak ada kaitannya pembatasan impor bawang putih karena virus corona. Hanya saja, stok bawang putih nasional yang masih banyak. Sehingga masuknya bawang putih luar negeri sementara ini dihentikan. Yang distop masuk adalah bahan makanan hewani di luar ikan. “Bawang putih tidak. Karena stoknya masih banyak saja. Ini cuma efek psikologis saja. Panic buying masyarakat ini,” jelas Hj. Selly.

Di Provinsi NTB sendiri, stok bawang putih yang ada saat ini sebanyak 11 ton. Namun karena terpengaruh pemberitaan di media-media nasional. Terutama media televisi, isunya bergulir ke persoalan stok dan penyetopan komoditas impor yang dari China. “Kalau sudah begini, pasti ada spekulan yang bermain. Tidak ada itu,” tegas Hj. Selly.

Bawang putih impor yang masih tersedia di stok nasional, memungkinkan akan digelontorkan pada pertengahan Februari ini dan tidak dipungkiri ketergantungan Indonesia pada komoditas impor sangat tinggi, mencapai 90 persen. Termasuk bawang putih. Stok yang tersedia ini masih tersimpan di distributor. Cadangan stok inilah yang diminta digelontorkan untuk mengamankan pasar. Setelah terdistribusi sampai ke pembeli, barulah pemerintah akan menerbitkan kembali izin impor. Minimal stok cadangan telah berkurang.

“Tidak ada kaitan dengan corona,” demikian Hj. Selly. Ia juga telah berkoordinasi dengan para distributor di daerah untuk menggelontontorkan cadangan stok bawang putih. Dari hasil penelusuran ke lapangan inilah diketahui stok bawang putih tersedia 11 ton di NTB. Yang panik saat ini adalah pasar dan harga masih normal.

Ditingkat pasar yang diduga ada permainan. Karena itu, ia berencana dengan Satgas Pangan untuk turun kembali ke pasar. “Harapan kita jangan panik buying. Jadi konsumen yang cerdas itu penting. Belilah secukupnya. Kalau tidak pakai bawang putih dalam jumlah banyak kan kita ndak mati, kalau ndak ada beras yang kemungkinan kita mati,” selorohnya. (bul)