Pedagang Tempe Ancam Mogok Produksi

Penjual tahu-tempe di Pasar Kebon Roek kesulitan menjual dagangannya. Dimana jumlah pelanggan berkurang mengikuti harga kedelai impor sebagai bahan baku yang terus melonjak, sehingga memaksa pedagang ikut menaikkan harga untuk tahu-tempe.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Harga kedelai impor yang terus melambung sangat mencekik bagi produsen tahu-tempe di Mataram. Sejumlah pedagang di Pasar Kebon Roek, Mataram, misalnya mengeluhkan tingginya harga kedelai tersebut sampai berencana melakukan mogok produksi jika harga terus naik.

Salah seorang pedagang tahu-tempe di Pasar Kebon Roek, Sari, menyebut saat ini harga kedelai dapat mencapai Rp1.030.000 per 100 kilogram (Kg). “Jadinya harga tahu juga naik. Yang kecil yadi 3 biji Rp1.000, yang besar jadi 5 biji Rp2 ribu. Per-bak-nya juga kita dinaikkan sama bos jadi Rp50 ribu. Jadi dua bak yang kita ambil itu modalnya Rp100 ribu,” ujarnya, Rabu, 10 Februari 2021.

Iklan

Kondisi tersebut diakuinya cukup menyulitkan. Terlebih pembeli tidak mau mengambil pusing soal harga kedelai yang naik. “Kalau kita kasi tahu dapatnya kurang kalau beli (tahu-tempe) sekarang, pembeli itu tidak mau tahu. Kalau kita kasi tahu harga kedelai naik, mereka selalu bilang ke sini mau beli tahu-tempe. Bukan beli kedelai,” jelasnya.

Menurut Sari, jika tidak menaikkan harga tahu-tempe dirinya akan kesulitan mengembalikan modal. Terlebih harga kedelai telah naik sejak Senin, 7 Februari 2021. Di mana pada minggu lalu harga kedela pada Januari lalu disebutnya dapat mencapai Rp800 ribu per 100 Kg, kemudian meningkat menjadi Rp900 ribu dan Rp980 ribu, dan terakhir Rp 1.030.000.

Tahu-tempe yang dijual Sari selama ini berasal dari sentra produksi di Kelurahan Kekalik Jaya. Menyikapi kenaikan harga kedelai tersebut, dirinya bersama produsen disebutnya berusaha meminta bantuan ke pihak Kelurahan. “Ya kita mau minta solusi ke Kelurahan rencananya ramai-ramai. Apakah kita perlu mogok produksi atau bagaimana supaya harga kedelai ini turun,” jelasnya.

Tidak jauh berbeda dengan Sari, Hidayatul yang juga menjual tahu-tempe di Pasar Kebon Roek mengalami hal serupa. Selain tahu, tempe juga disebutnya mengalami kenaikan harga sebagai dampak mahalnya harga kedelai impor saat ini.

“Tempe ini biasanya Rp3 ribu satu papan, sekarang jadi Rp3,5 ribu. Tahu juga naik Rp50 ribu per bak-nya. Semula mau dinaikkan lagi sama bos, tapi kita bilang kalau lebih mahal lagi nanti saya berhenti ambil tahu-tempe. Soalnya jualnya juga jadi susah,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Pasar Induk Mandalika, H. Ismail mengatakan, harga kedelai impor di pasar induk tersebut saat ini mencapai Rp12per Kg. Jika mengambil di pengepul, harga kedelai impor tersebut berkisar Rp10 ribu per Kg.

“Jadi masih sama sebenarnya dengan dua minggu yang lalu. Stoknya juga ada, cuma karena pandemi ini juga biaya operasionalnya itu yang barangkali bertambah dari Suarabaya ke sini. Makanya harganya naik,” ujar Ismail saat dihubungi, Rabu, 10 Februari 2021.

Diterangkan, untuk stok kedelai impor tersebut terbilang sangat mencukupi kebutuhan. Namun untuk harga jual diakuinya memang mengalami kenaikan dari harga normal. “Harganya ini yang memang untuk pembuat tahu-tempe itu kesulitan. Dengan harga yang sekarang ini bisa dibilang kurang untung lah buat pedagangnya,” tandas Ismail. (bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional