Pedagang Protes Pengelolaan Pasar Pagesangan

Para pedagang Pasar Pagesangan membentangkan pamplet berisi protes menuntut keadilan ke Kantor Dinas Perdagangan Kota Mataram, Rabu, 22 April 2020. Mereka mendesak pedagang tidak tetap menempati lahan parkir sebagai tempat berjualan dipindah ke dalam. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah pedagang memprotes pengelolaan Pasar Pagesangan. Selain semrawut, lahan parkir digunakan sebagai tempat berjualan. Imbasnya, pedagang mengantongi surat izin penempatan, sepi pembeli. Sekira pukul 09.30 Wita, belasan pedagang mendatangi Kantor Dinas Perdagangan Kota Mataram di Jalan Dr. Soedjono, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela.

Pamflet berisi protes menuntut keadilan dibentangkan. Demonstran kebanyakan kaum perempuan itu terus menyuarakan tuntutannya. Salah satunya Fauziah. Perempuan paruh baya ini, mengeluhkan sikap kepala pasar yang membiarkan pedagang tidak tetap menggelar dagangnya di tempat parkir. Ketidaktegasan itu berdampak ke pedagang yang berada di dalam. Barang dagangannya sepi pembeli.

Iklan

“Sudah sering kita mengeluh ke kepala pasar tapi tidak dihiraukan. Sekarang ini puncak kita datang protes ke dinas,” katanya. Fauziah mulai berjualan di Pasar Pagesangan tahun 1987. Pengelolaan pasar saat ini jauh berubah dari 30 tahun sebelumnya. Pedagang teratur mengisi lapaknya. Lahan parkir diduga diperjualbelikan.

Pedagang lainnya, Beni juga mengeluhkan hal serupa. Pedagang menempati lapak di dalam pasar sepi pembeli. Hal ini disebabkan pedagang tidak tetap dibiarkan berjualan di areal parkir. Disatu sisi, mereka mengeluarkan retribusi lebih besar dibandingkan pedagang tidak tetap. “Kita keluarkan sewa tempat, biaya kebersihan dan uang keamanan. Kenapa malah dibiarkan pedagang lain berjualan di parkiran,” protesnya.

Dia bersama pedagang lainnya menuntut keadilan ke Pemkot Mataram khususnya Dinas Perdagangan, untuk menertibkan pedagang berada di luar. Menanggapi protes para pedagang, H.Amran M.Amin menilai aksi pedagang adalah hal yang wajar. Mereka menyampaikan aspirasi karena dirasa ketidakadilan antara pedagang di dalam dengan di luar.

Aktivitas pedagang di luar mengakibatkan pembeli malas masuk karena jenis barang dicari sama. Disatu sisi, retribusi dibebankan ke pedagang tetap lebih besar dibandingkan pedagang dadakan. “Pedagang tidak tetap ini malah lebih laris,” ungkapnya. Protes para pedagang akan ditindaklanjuti dengan memanggil kepala pasar. Kepala pasar akan diminta mengembalikan fungsi pasar seperti semula. Artinya, lahan parkir tidak boleh dijadikan tempat berjualan.

“Saya minta difungsikan kembali. Jangan sampai terakumulasi keberatan dari pedagang,” ujarnya. Indikasi adanya jual beli lahan di Pasar Pagesangan. Amran menilai tidak bisa serta merta menerima tuduhan pedagang. Pihaknya harus mengklarifikasi stafnya, sehingga jelas titik terang permasalahannya. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional