Pedagang Pasar Kebon Roek Bandel, Kepala Pasar Keluhkan Fasilitas

Mataram (suarantb.com) – Menanggapi protes warga mengenai penumpukan sampah di samping bangunan Pasar Kebon Roek, Ampenan, Kepala Pasar Kebon Roek, Roos Hariadi mengatakan bahwa permasalahan utamanya adalah akibat tidak tertibnya para pedagang pasar. Ia mengatakan sangat sulit memberi pemahaman kepada para pedagang untuk menaati aturan yang sudah ditetapkan pemerintah. Banyak pedagang yang membandel tidak memperhatikan masalah kebersihan pasar.

“Contohnya pedagang sayur. Kita sudah beri penyuluhan agar sayurnya dibersihkan di rumah, jangan di pasar. Tapi tetap saja bandel,” ungkapnya kepada suarantb.com, Sabtu, 3 September 2016.

Iklan

Pasar Kebon Roek memiliki jumlah pedagang tetap sekitar 700 orang. Ditambah dengan jumlah pedagang keliling, buruh dan petugas parkir, jumlah tersebut dapat mencapai hingga sekitar 900 orang. Roos mengakui sulit bagi petugas pasar untuk mengontrol semua penghuni pasar. Terutama untuk masalah kebersihan masing-masing pedagang.

Roos mengakui petugas kebersihan pasar tetap membersihkan pasar secara rutin setiap malam. Namun dengan sekian banyak penghuni pasar, sampah yang dihasilkan tetap melimpah. Ditambah lagi dengan banyaknya penduduk yang juga membuang limbah rumah tangga di lokasi yang sama.

Menurutnya permasalahan ini di luar kendali petugas pasar. Sementara penanganan dari petugas Dinas Kebersihan Kota Mataram belum maksimal. Akibatnya, sampah limbah pasar serta limbah rumah tangga yang dibuang di lokasi tersebut makin menggunung dan mengendap bercampur tanah.

Pengendapan sampah ini menyulitkan petugas kebersihan mengangkut tumpukan sampah. Menurut Roos, dibutuhkan alat berat seperti mobil pengeruk sampah agar sampah tersebut bisa diangkut. Namun hingga saat ini, petugas kebersihan belum menindaklanjuti masalah penumpukan sampah tersebut.

Mengenai permintaan warga tentang pemindahan lokasi pembuangan sampah, Roos mengatakan Pasar Kebon Roek tidak memiliki lahan lain. Sebab, halaman luar pasar bahkan hingga ke pinggir-pinggir jalan dipenuhi pedagang.

“Kita mau tempatkan kontainer di mana? Jalan saja penuh pedagang. Karena tidak ada yang mau berjualan di dalam gedung,” katanya.

Alasan pedagang tidak menempati gedung yang disediakan pemerintah adalah karena bentuk bangunan yang tidak sesuai harapan para pedagang. Pedagang menginginkan bentuk bangunan tidak bertingkat untuk memudahkan pembeli. Sebab, menurut pedagang bangunan bertingkat membuat pembeli malas mengunjungi pedagang di lantai dua. Sehingga pedagang justru memilih memenuhi halaman pasar daripada menempati gedung.

Solusi paling utama untuk semua permasalahan pasar menurutnya dengan memperbaiki tata kelola pasar. Dimulai dari renovasi gedung yang sesuai dengan permintaan pedagang, serta penyediaan fasilitas-fasilitas lain yang mendukung aktivitas pasar. Dengan demikian, pengelolaan pasar akan menjadi lebih mudah.

Penataan pasar yang teratur lebih memudahkan petugas pasar untuk menghitung pemasukan daerah dari pasar tradisional. Roos menyebutkan pendapatan daerah dari pasar Kebon Roek di tahun 2014 bisa mencapai Rp 4.855.000 per bulan dari biaya sewa lokasi. Namun saat ini, pendapatan daerah dari pasar Kebon Roek tidak dapat dihitung dengan pasti akibat kesemerawutan penataan pasar.

Ia mengatakan mendapat pemasukan sekitar Rp 900 ribu per hari dari pungutan harian. Sementara biaya sewa lokasi bulanan tidak bisa ditentukan jumlah pastinya. “Pedagang yang banyak akan lebih gampang diatur kalau fasilitasnya memadai,” ujarnya. (rdi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here