Pedagang Ketakutan, Tes Cepat Massal Ditunda

Sebagian pedagang di blok timur Pasar Kebon Roek meninggalkan lapak jualannya setelah menerima informasi adanya rapid test massal, Selasa, 28 Juli 2020. (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Rencana Pemprov NTB dan Pemkot Mataram untuk menggelar rapid test (tes cepat) massal di Pasar Kebon Roek, Ampenan, mendapat respon negatif dari masyarakat pedagang. Pasalnya, para pedagang yang telah menerima sosialisasi terkait kegiatan tersebut justru memutuskan tidak berjualan untuk menghindari tes yang akan dilakukan.

“Masing-masing pedagang yang sudah mendengar informasi bahwa akan diadakan rapid test untuk para pedagang dan pengunjung, seperti inilah keadaannya. Para pedagang merasa takut dengan akan dilakukan rapid test seperti ini,” ujar Kepala Pasar Kebon Roek, Malwi saat dikonfirmasi, Selasa, 28 Juli 2020.

Iklan

Berdasarkan pantauan Suara NTB, sampai dengan pukul 08.00 Wita Pasar Kebon Roek memang terlihat sepi. Padahal, salah satu pasar induk di Kota Mataram tersebut biasanya telah ramai pengunjung sejak pukul 06.00 Wita.

Menurut Malwi, hampir 50 persen pedagang memutuskan tidak membuka lapak dagangannya setelah mengetahui akan dilakukannya rapid test massal oleh pemerintah daerah. Tidak hanya itu, tingkat kunjungan juga mengalami penurunan drastis karena masyarakat juga menghindari tes yang akan dilakukan.

“Biasanya kalau pagi sudah berdesak-desakan orang jalan, tidak bisa lewat di sebelah timur (pasar), tapi karena adanya informasi akan diadakannya rapid test, sehingga seperti ini. Pedagangnya takut diperiksa,” jelas Malwi.

Diterangkan, pihaknya sebelumnya memang mensosialisasikan program rapid test massal tersebut kepada para pedagang dan pengunjung. Di mana pemerintah daerah akan mengambil 300 orang secara acak untuk diambil swabnya sebagai sampel untuk rapid test jenis antigen.

Informasi tersebut diakui justru meresahkan para pedagang dan pengunjung karena minimnya pemahaman terkait pengambilan sampel swab. Pasalnya, para pedagang di pasar lebih akrab dengan proses rapid test dengan metode antibodi, yaitu pemeriksaan dengan sampel darah yang sebelumnya pernah dilakukan di Pasar Kebon Roek.

  BNPB Optimis Covid-19 di NTB Tertangani dengan Baik dan Cepat

“Kita sudah sampaikan ini demi rasa aman dan nayaman pedagang, supaya tidak ada kekhwatiran. Kalau ada yang reaktif atau positif kita tahu siapa dia. Satu saja yang kita minta kepada para pedagang dan pengunjung, agar menggunakan dan mengikuti aturan satgas covid-19 dengan menggunakan masker dan mengatur jarak,” jelas Malwi.

Di sisi lain, para pedagang yang menutup dagangannya kembali beraktivitas setelah pengelola pasar mengumumkan rencana rapid test massal tersebut ditunda. Penundaan dilakukan mengikuti isu penolakan yang dilontarkan para pedagang sendiri.

“Ini sangat meresahkan kami sebagai pengelola pasar. Kami sudah sosialisasi bersama TNI dan Polri, tidak ada pemeriksaan atau rapid di pasar. Para pedagang kembali datang setelah diumumkan tidak ada rapid test yang dilakukan,” jelasnya.

Salah seorang pedagang di Pasar Kebon Roek, Sahurin, menerangkan rencana pemerintah untuk menggelar rapid test massal memang membuat khwatir sebagian besar pedagang. Baik dari segi ekonomi maupun dari segi kesehatan pribadi.

“Kalau bisa tidak usah ada (rapid test). Kebanyakan kalau bilang ada rapid test ini, jadi sepi yang belanja. Orang takut ke pasar, kita jadinya tidak dapat jualan,” ujarnya. Di sisi lain, dirinya mengaku sangsi terhadap ketepatan pemeriksaan menggunakan metode rapid test tersebut.

“Nanti kita tidak punya penyakit itu, dikira punya. Semua keluarga saya nanti diangkut semua (ke rumah sakit), sedangkan saya tulang punggung keluarga,” sambungnya.

Terpisah, Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Mataram, Drs. I Nyoman Suwandiasa, menerangkan pihaknya menunda rapid test massal di Pasar Kebon Roek mengikuti penolakan dari para pedagang sendiri.

“Penundaan dilakukan karena pedagang resah dan takut dilakukan rapid,” ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram tersebut, Selasa, 28 Juli 2020. Pengaturan ulang jadwal rapid test massal sendiri disebut masih menunggu rekomendasi lebih lanjut. “Masih akan dikoordinasikan dan disinergikan dengan program gugus tugas kota,” tandasnya. (bay)

  Disnakeswan NTB Antisipasi Peredaran Daging Celeng

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here