Pedagang Jalan Cilinaya Tolak Relokasi

Mataram (suarantb.com) – Rencana penertiban bangunan pertokoan di Jalan Cilinaya, Mataram menimbulkan keresahan di kalangan para pedagang yang menempati bangunan pertokoan tersebut. Pasalnya, para pedagang menganggap bangunan pertokoan tersebut dibangun atas izin Pemkot Mataram. Munculnya rencana relokasi justru menimbulkan penolakan di kalangan pedagang.

Para pedagang menganggap, relokasi justru akan menurunkan omzet jualan mereka, sebab lokasi pertokoan di Jalan Cilinaya dinilai sudah cukup strategis. Beberapa pedagang bahkan mengaku telah memiliki langganan tetap. Jika di kemudian hari lokasi tokonya berubah, kemungkinan besar akan menurunkan jumlah pelanggan.

Iklan

Seorang pedagang perhiasan dan pernak pernik mutiara, Farida Usmayati mengaku, usaha yang telah dirintisnya dari nol di Jalan Cilinaya tersebut bahkan terancam bangkrut jika di kemudain hari terjadi relokasi. Dia mengaku telah menempati bangunan tersebut sejak tahun 1993, bahkan sebelum Mataram Mal dibangun.

“Toko kita sudah dikenal pelanggan, kalau bisa jangan sampai dipindah. Kita sudah di sini sejak jalan ini masih gelap dan sepi,” ungkapnya, Kamis, 13 Oktober 2016.

Demikian pula disampaikan pemilik warung nasi, Zakaria, ia menuntut pemerintah untuk memperhatikan nasib rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya dari hasil jualan di toko tersebut. Menurutnya, sangat susah untuk memperoleh lokasi strategis baru, mengingat persaingan perdagangan di Kota Mataram kian pesat. Banyaknya pasar-pasar modern pun berpengaruh besar terhadap kondisi penjualan mereka.

“Pemerintah membangun mal-mal dan toko-toko besar. Sementara kita hendak digusur. Seharusnya pemerintah juga memikirkan nasib kita para pedagang kecil di sini,” ujarnya.

Pedagang yang lain pun sependapat, baik pedagang suvenir, perhiasan, dan kuliner, mereka bersepakat untuk menolak adanya relokasi bangunan pertokoan di Jalan Cilinaya tersebut. Mereka meminta Pemkot Mataram mempertimbangkan keberadaan mereka.

Mereka mengaku tidak menolak pemangkasan bangunan. Meskipun pada akhirnya bangunan yang mereka tempati menjadi lebih sempit dari sebelumnya, namun mereka berpendapat hal tersebut lebih baik dibandingkan relokasi yang justru dikhawatirkan dapat menurunkan omzet penjualan.

“Tidak apa-apa dirapikan, dipotong di depan atau belakang. Asal kita tidak pindah lokasi. Meski ini lahan pemerintah, kita sebagai rakyat juga harus diperhatikan kesejahteraannya,” harap Farida. (rdi)