Pedagang di Pasar Mandalika Keluhkan Sampah Menumpuk

Petugas Kebersihan Pasar Induk Mandalika bergotong royong membersihkan sampah yang menumpuk, Kamis, 7 Januari 2021. Sampah menumpuk akibat pengurangan jumlah kontainer dan jatah pengangkutan sampah setiap harinya.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Menumpuknya sampah di sekitar kontainer Pasar Mandalika dikeluhkan para pedagang. Sampah tersebut menumpuk akibat berkurangnya pengangkutan kontainer dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram.

“Pedagang jadi ribut setiap pagi, karena ini aromanya kan masuk ke dalam,” ujar Koordinator Kebersihan Pasar Induk Mandalika, Alfian Hadi kepada Suara NTB, Kamis, 7 Januari 2021. Diterangkan, pihaknya telah menerima informasi terkait pengurangan jatah pengangkutan kontainer dari Dinas LHK. “Tapi kita berharapnya ada prioritas,” sambungnya.

Sebelum adanya pengurangan pengangkutan, di Pasar Induk Mandalika difasilitasi dengan dua kontainer yang diletakkan di bagian barat pasar setiap harinya. Masing-masing kontainer kemudian diangkut sebanyak dua kali setiap harinya untuk mengurangi tumpukan sampah.

Kendati demikian, sejak 1 Januari lalu pengangkutan yang dilakukan oleh DLH Alfian berkurang drastis menjadi satu kontainer per hari. “Ini dari hari Senin sudah numpuk sampahnya. Hari Selasa baru diangkut, tapi kontainer yang kosong malah tidak dikembalikan ke sini,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat sampah berserakan di sekitar lokasi pembuangan sejak Selasa, 5 Januari 2021. “Itu makanya pedagang banyak yang mengeluh ke kita, kenapa sampahnya tidak diangkat. Tidak tahan juga sama aromanya,” jelas Alfian.

Untuk itu, pihaknya mulai melakukan gotong royong pembersihan sampah pada Kamis, 7 Januari 2021. Namun hal tersebut diakui tidak akan berarti banyak tanpa adanya kontainer sebagai wadah sampah yang telah menumpuk tersebut.

“Kontainernya baru datang tadi siang yang kosong, jadi sampah yang dari hari Selasa kemarin itu langsung kita masukkan. Biasanya itu diangkut satu kontainer full, terus yang kosong dibawa lagi ke sini. Kontainer kedua full, dibawa lagi ke sini. Sekarang cuma sekali diangkut, itupun kontainernya yang kosong tidak dibawa ke sini lagi,” jelasnya.

Diterangkan, petugas kebersihan pasar secara teknis bertugas memasukkan sampah yang ada di pasar langsung ke kontainer. Namun dengan adanya penumpukan sampah saat ini kerja tersebut menjadi lebih berat. Terlebih sampah yang ada di sekitar kontainer tidak hanya berasal dari dalam pasar.

“Ada juga orang luar yang buang, terus kebanyakan itu sampah basah, makanya aromanya begitu. Kalau kita biarkan menumpuk susah juga, jadi kita gotong royong saja tadi,” jelas Alfian. Dengan jumlah sampah yang menumpuk saat ini, pihaknya membutuhkan setidaknya 2 unit kontainer kosong untuk mewadahi seluruh sampah sebelum diangkut. “Yang penting ada kontainer kosong, kita siap bantu bersihkan. Karena pasar ini kan tempat umum juga, jadi kalau menumpuk begini aromanya lumayan menganggu,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah dan Limbah B3 DLH Kota Mataram, Edwin Zamroni, menerangkan prioritas pengangkutan saat ini memang difokuskan ke depo sampah yang ada. “Prioritas kita itu di Depo Ampenan untuk melayani pengangkutan sampah Kecamatan Ampenan, Depo Lawata untuk melayani sampah Kecamatan Selaparang dan Kecamatan Mataram, dan TPST Sandubaya untuk melayani sampah Kecamatan Sandubaya dan Cakranegara,” ujarnya saat dihubungi, Kamis, 7 Januari 2021.

Diterangkan, pengurangan jatah pengangkutan mengikuti diterapkannya Peraturan Presiden (Perpres) 33/2020 tentang Standar Harga Satuan Regional dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 90/2019 tentang Klasifikasi, Kodefikasi dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah.

Dalam Perpres tersebut diatur seluruh kendaraan roda enam hanya boleh menghabiskan anggaran sebesar Rp37.110.000 per unit per tahun, termasuk kendaraan pengangkut sampah dan kontainer. Dari besaran anggaran tersebut, 51 unit kendaraan pengangkut sampah yang dimiliki DLH hanya mendapat jatah bahan bakar untuk 7,5 liter per hari.

Sembari menunggu perubahan aturan dari Perpres 33/2020 tersebut, pihaknya mengharapkan adanya peran serta masyarakat untuk menganggulangi penumpukan yang terjadi di seluruh Kota Mataram. “Kami minta operator roda tiga di lingkungan agar mewadahi sampahnya supaya memudahkan pengangkutan,” jelas Edwin.

Selain itu, pihaknya juga memprioritaskan pengangkutan sampah dari rumah tangga yang tersebar di depo maupun TPS mobile dapat terangkut lebih dulu. Untuk TPS mobile telah diaktifkan di beberapa kelurahan untuk mengurai potensi penumpukan sampah. “TPS mobile sudah aktif di beberapa kelurahan seperti Monjok Barat, Kekalik Jaya, Karang Pule, Pagesangan, dan Pagesangan Timur,” tandas Edwin. (bay)