Pedagang Bakulan di Pasar Sindu Protes Tak Dapat Lapak

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram merelokasi 270  pedagang di Pasar Sindu. Namun relokasi ini tak berjalan mulus. Pedagang bakulan yang notabene sebagai pedagang tidak tetap protes tak mendapatkan jatah lapak.

Pro – kontra pembagian lapak dengan sistem undi dikatakan Rukmini, seorang pedagang di Pasar Sindu. Keributan terutama dipicu protes pedagang bakulan, karena tak mendapatkan tempat.

Iklan

“Iya, ribut pas pembagian lapak itu. Sempat ramai terutama pedagang bakulan protes gak dapat tempat,” katanya, Jumat, 11 Mei 2018.

Sejak 18 tahun berjualan di Pasar Sindu tak terlalu membuatnya khawatir. Dia telah memiliki izin berdagang yang dikeluarkan oleh Dinas Perdagangan. Los berukuran 3×4 meter dikenakan retribusi Rp25 ribu per bulan.

“Dulu gerobak saya paling belakang sana. Masih pakai pagar. Pemerintah nyuruh pindah kesini. Iya, kita nurut saja,” ucapnya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Lalu Alwan Basri menjelaskan, Pasar Sindu telah direvitalisasi di tahun 2017 lalu dengan menyatukan beberapa los menjadi satu kesatuan. Tertampung 270 pedagang dari total 300 pedagang akibat penambahan pedagang tidak tetap.

“Ada 30 pedagang tidak tetap, tapi sudah kita masukkan,” kata Alwan.

Los yang dibangun diprioritaskan bagi pedagang yang telah memiliki surat izin penempatan (SIP) yang diterbitkan 2017 lalu. Setelah revitalisasi otomatis SIP lama tidak terpakai. “SIP itu diterbitkan. Baru diumumkan ke pedagang,” ucapnya.

Alwan menganggap hal wajar jika terjadi pro-kontra atau pedagang merasa tidak puas dengan sistem pembagian tersebut. Walaupun ada gesekan-gesekan. Artinya, pedagang menerima. “Semua kan sudah kita akomodir,” timpalnya.

Pasca menempati los tersebut, ia menjamin tidak ada lagi pedagang berjualan di luar. Lahan di luar bisa dimanfaatkan sebagai tempat parkir, sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas. (cem)