PDAM Dompu Kekosongan Bahan Baku Pengolahan Air

Erikson. (Suara NTB/Jun)

Dompu (Suara NTB) – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Dompu, mengalami kekosongan bahan baku utama pengolahan air berupa tawas dan karporit. Akibatnya, tingkat kekeruhan air yang sudah diluar ambang batas saat musim hujan ini, sulit teratasi. Pun sangat berbahaya bagi kesehatan ketika dikonsumsi ribuan pelanggan. Keterbatasan anggaran pengadaan dianggap salah satu pemicu utama.

Direktur Teknik (Dirtek) PDAM Dompu, Erikson kepada Suara NTB, Senin, 23 November 2020 menyampaikan, biasanya tingkat kekeruhan air saat musim penghujan tiba berkisar 200-300 NTU. Namun demikian, kondisinya sekarang sudah sampai 1000 NTU atau diluar ambang batas kempuan Instalasi Pengolahan Air (IPA). “Bahan kimia yang kita sediakan untuk setahun kemarin habis untuk menangani kekeruhan akibat banjir, kepekatannya ini sudah melewati standar IPA,” ungkapnya.

Iklan

Menyikapi kekeruhan diluar ambang batas tersebut, PDAM sebetulnya ingin menghentikan proses pendistribusian air ke ribuan pelanggan di Kecamatan Woja dan Dompu. Tetapi karena beberapa pertimbangan dan permintaan, air terpaksa disalurkan meski akhirnya mereka harus menerima keluhan dan cercaan dari warga.

Minimal, lanjut Erikson, air yang terdistribusi itu dimanfaatkan untuk keperluan mencuci pakaian, perabotan rumah tangga dan sebagainya. Sementara untuk konsumsi tidak diperkenankan karena sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat. “Melihat kondisi kekeruhan saat ini kita ndak berani menjamin kesehatannya. Minimal dimanfaatkan untuk mencuci, kalau masak dan minum ya sementara beli air galon dulu,” jelasnya.

Kekosongan bahan baku pengolahan air yang dialami, bukan karena kelangkaan stok dari penyedia. Tetapi anggaran untuk pembelian sangat terbatas, apalagi dengan tingkat kesadaran pelanggan untuk membayar iuran yang cukup rendah.

Atas kondisi tersebut pihaknya sudah mengadu ke pemerintah daerah untuk diupayakan anggaran pengadaan bahan baku. Informasinya tersedia namun tak diketahui pasti kapan akan dikucurkan.

Disinggung pemicu kekeruhan diluar kebiasaan ini, Erikson menegaskan, salah satu penyebab utamanya yakni kondisi alam yang sudah rusak dirambah warga untuk penanaman jagung. Pun bagian dari resiko mengambil air sungai untuk diolah dan dikonsumsi. “100 persen dia pengaruhnya situasi alam, dengan keadaan hutan yang gundul ketika hujan turun tentu tidak ada yang menahan lumpur. Dan inilah resiko menggunakan air sungai, untuk mencari mata air sudah tidak ada sekarang di Dompu,” pungkasnya. (jun)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional