PCBL Diduga Mulai Kendor

Ember cuci tangan yang disiapkan di salah satu lingkungan di Kelurahan Mandalika disinyalir jarang digunakan oleh masyarakat. Kolaborasi pencegahan dan penanganan virus Corona melalui program penanganan Covid-19 berbasis lingkungan dan kampung sehat diduga mulai mengendor. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Kolaborasi pencegahan dan penanganan virus Corona melalui program penanganan Covid-19 berbasis lingkungan (PCBL) dan kampung sehat terkesan mulai kembang kempis. Pengawasan di lingkungan mulai mengendor. Protokol kesehatan mulai diabaikan oleh masyarakat.

Penulusuran Suara NTB di beberapa lingkungan yang menjadi lokasi pelaksanaan program nyaris minim pengawasan. Pintu masuk ke lingkungan tak lagi dijaga. Pemeriksaan suhu tubuh pendatang nihil. Tempat cuci tangan minim fungsi. Sementara di satu sisi, pelaksanaan program lingkungan diberikan dana operasional Rp2 juta.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram, Drs. I Nyoman Swandiasa mengklaim, evaluasi setiap saat dilakukan untuk pencegahan penularan melalui program PCBL yang berkolaborasi dengan kampung sehat. Selain itu, kecamatan menindaklanjuti dengan komitmen bersama muspika dengan menggelar apel deklarasi bersama menuju zona hijau.

Dalam konteks ini tegas Nyoman, PCBL maupun kampung sehat tidak kembang kempis. Pemerintah tetap konsisten melaksanakan pencegahan dan penanganan. Bukti konkretnya adalah, klaster lingkungan tidak ada lagi. “Saya tidak mengatakan bahwa kembang kempis. Pemerintah tetap bekerja,” katanya ditemui, Kamis, 13 Agustus 2020.

Tim gugus tugas justru memperketat pengawasan pada klaster perkantoran. Pasalnya, penyebaran virus Corona mulai beralih di tempat kerja. Dia menekankan perkantoran untuk melakukan penanganan protokol Covid-19 secara konsisten.

Ditambahkan Nyoman, PCBL dan kampung sehat yang merupakan program kolaborasi Pemkot Mataram dengan Polda NTB dinilai efektif. Memang dalam pelaksanaannya pihak Polda selesai di bulan Agustus dimundurkan. Barangkali ini sebagai respon dari antusiasme masyarakat yang begitu bergairah menyangkut program ini. “Pihak kepolisian membuka peluang itu lagi,” ujarnya.

Ketidakdisiplinan masyarakat menerapkan protokol kesehatan tidak terlepas dari fenomena menuju tatanan kehidupan baru. Masyarakat ada kejenuhan mengurung diri dan bekerja dari rumah. Barangkali kata dia, masyarakat butuh relaksasi. Meskipun demikian, masyarakat tidak boleh abai menerapkan protokol kesehatan.

Pencegahan dan penanganan Covid-19, Pemkot Mataram menggelontorkan anggaran Rp135 miliar. Terjadinya peningkatan kasus setiap harinya tegas Nyoman, tidak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan tim gugus tugas. Justru ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerja. Jika menginginkan pasien menurun mestinya tidak ada rapid test dan swab. “Kalau data mau menurun tidak usah rapid dan swab,” demikian kata Nyoman. (cem)