Pawai Ogoh–ogoh Tetap Digelar

Ida Bagus Ari Widya Utama, warga Cakranegara memasang atribut Ogoh-ogoh, Kamis, 19 Maret 2020. Pelaksanaan pawai Ogoh-ogoh sebagai rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1942 tetap digelar. Peserta harus mengetahui protokol pencegahan virus corona atau covid-19. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pawai Ogoh-ogoh sebagai rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1942 tetap digelar pekan depan. Kegiatan ini dipastikan akan melibatkan banyak orang. Namun setiap peserta harus mengikuti protokol pencegahan virus corona.

Keputusan tersebut setelah digelar rapat di Wantilan Taman Mayura, Rabu, 18 Maret 2020. Rapat dihadiri oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi NTB, PHDI Kota Mataram, Ketua Krama Pura Meru, camat Cakranegara, Dandim dan Polsek Cakranegara serta lurah.

Iklan

Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang mengatakan, permasalahan pawai Ogoh-ogoh  telah disampaikan saat rapat bersama Gubernur NTB, Dr. H. Zulkifliemansyah beserta jajarannya. Bahwa, pemerintah perlu mengatensi bersama karena tidak bisa dihindari akan terjadi pengumpulan dan melibatkan massa dalam jumlah banyak dalam kegiatan tahunan tersebut.

Pertimbangan sebagai kegiatan keagamaan mesti diambil kebijakan yang sensitif dan dapat diterima dengan bijaksana. “Ini sudah saya sampaikan di hadapan Pak Gubernur. Oleh bapak Gubernur diambil kebijakan untuk diatensi oleh Forkopimda NTB,” jelasnya.

Berbagai rangkaian yaitu antara lain Melasti, pengerupukan atau pacaruan yang terdapat di dalamnya ialah pawai Ogoh serta catur brata penyepian tetap dilaksanakan.

Pengurus PHDI NTB memberikan imbauan. Pertama, upacara melasti tingkat provinsi NTB tetap dilaksanakan tanggal 22 Maret di pantai Loang Baloq dengan sederhana. Masing-masing banjar krama putar mengutus pamedek maksimal lima orang. Peserta yang diikutsertakan ialah anggota masyarakat yang sehat dan paham mengenai protokol pencegahan dan penularan covid-19.

Pawai Ogoh-ogoh dilaksanakan di wilayah masing-masing dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan dan penularan covid-19. Dan, jumlah pengusung Ogoh-ogoh diminimalkan.

Warga Cakranegara, Ida Bagus Ari Widya Utama mengatakan, pelaksanaan pawai Ogoh-ogoh telah dibahas bersama Ketua Panitia di Taman Mayura, kecamatan, kelurahan serta instansi teknis dari Pemkot Mataram. Keputusannya pawai Ogoh-ogoh sebagai rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi tetap dilaksanakan di daerah masing-masing. Dengan catatan, peserta harus mematuhi protokol pencegahan penularan covid-19.

“Ndak bisa kalau ndak diadakan. Bisa jadi pro-kontra nanti di masyarakat,” jawabnya.Kecuali pemerintah sejak sebulan lalu menginformasikan ke masyarakat terutama Umat Hindu kemungkinan bisa ditiadakan. Termasuk mengurangi peserta pawai. Satu banjar saja memiliki 80-100 perwakilan. Artinya, sulit membendung keinginan anggota untuk ikut pawai.

Ari menambahkan, Ogoh-ogoh dengan karakter Rahwana dibuat hampir rampung. Pengerjaan membutuhkan waktu dua bulan. Dan, menghabiskan dana sekitar Rp8 juta-Rp9 juta. “Kalau kerjanya dari pagi sampai sore bisa dua-tiga minggu. Kalau ini hampir dua bulan dikerjakan,” jelasnya.

Saran pemerintah dengan memperhatikan standar pencegahan akan diperhatikan. Misalnya, dengan menggunakan masker dan jaga jarak antar peserta. (cem)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional