Pauzal Bahri, Inventor Terbaik Asal NTB di Gelar TTG Nasional XVIII

Mataram (suarantb.com) – Berkah di balik musibah. Pauzal Bahri berhasil membuktikan bahwa musibah yang diberikan Tuhan justru menyimpan berkah tersendiri, yang kemudian menjadikannya inventor terbaik di NTB dalam Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Tingkat Nasional XVIII tahun 2016. Pauzan berhasil meraih juara tiga inventor terbaik se-Indonesia dalam ajang tersebut.

Apa penemuan yang diciptakan Pauzal hingga mendapatkan penghargaan tersebut? Ia menciptakan kaki palsu sederhana yang bisa digunakannya sebagai pengganti kaki setelah satu kakinya diamputasi akibat kecelakaan pada 2005 lalu.

“Saya mulai mengembangkan kaki palsu ini tahun 2007. Setelah kaki kiri saya diamputasi tahun 2005 karena kecelakaan,” ujarnya.

Kecelakaan yang merenggut kakinya membuat lulusan Universitas Terbuka ini tergerak menciptakan kaki palsu sendiri. Karena di NTB belum ada yang menjual kaki palsu. Setelah menggunakan kaki buatannya ini, Pauzal merasa sangat terbantu. Sehingga ia bisa beraktivitas seperti sedia kala. Walaupun pada awalnya banyak yang meragukan usahanya ini, Pauzal tetap pantang menyerah berjuang untuk bisa mendapatkan sebuah “kaki”.

Pauzal menceritakan pada awalnya ia mencoba membuat kaki palsu dengan bahan paralon. Karena sifat paralon yang keras dan kaku, ia berpindah ke bahan fiber. Sifat fiber yang tipis, membuatnya cepat retak dan tidak awet jika Pauzal sering beraktivitas berat. Maka ia memutuskan untuk mencoba bahan-bahan dari alam.

“Fiber tipis jadi cepat retak kalau dipakai beban berat. Lalu saya coba serat batang pisang, kalau terlalu lama seratnya jadi tidak kuat. Kemudian coba serat bambu, kuat tapi dibentuk karena keras. Akhirnya saya coba serabut kelapa dan cocok. Percobaan ini saya lakukan selama empat bulan sampai ketemu sabut kelapa,” ceritanya.

Kaki palsu ciptaan Pauzal dibuatnya dari campuran resin, katalis dan serabut kelapa. Pembuatannya pun dilakukan secara manual. Tanpa berbekal pengetahuan kesehatan, hanya menyesuaikan dengan ukuran dan pola unik kaki. “Saya kalau basic di kesehatan tidak ada, kuliahnya dulu juga di jurusan pendidikan,” ucapnya.

Selain untuk diri sendiri, diakui Pauzal sudah ratusan orang yang terbantu dengan kaki buatannya ini. Selain warga NTB, pasiennya bahkan ada yang datang dari Bali. Mengapa disebut pasien? Karena untuk mendapatkan kaki palsu tidak cukup dengan memesan saja. Melainkan harus menjadi pasien yang “dirawat” di rumah Pauzal.

“Untuk dapatkan kaki palsu ini, pemesan syaratnya harus menginap di rumah saya. Butuh pengukuran detail tentang kakinya. Bentuk kaki, cara berpijak dan berdirinya itu berbeda. Setiap orang desain kakinya pasti beda. Disesuaikan dengan ukuran kaki masing-masing,” jelasnya.

Untuk itu, kaki buatan Pauzal tidak bisa hanya dicetak langsung. Namun harus dibuat dengan manual mengikuti bentuk kaki pemesan. “Ada yang kakinya bentuk X, lurus dan ada yang O. Itu nanti pijakan kakinya beda-beda. Kan ada juga penderita diabetes, dia kan takut lecet, jadi desainnya juga harus beda,” lanjutnya.

Proses pembuatan kaki palsu hanya butuh waktu empat hari. Tetapi sembari menunggu proses pembuatannya, pasien yang menginap di rumahnya akan mendapatkan terapi secara psikologis dari Pauzal. Sebagai bentuk dukungan moril karena beban psikologis pasca kehilangan anggota tubuh seperti kaki memang sangat besar.

“Kita saling sharing, saya ceritakan pengalaman saya, karena kan apa yang kita alami sama. Mengapa mereka tidak bisa seperti saya? Dari situ nanti rasa motivasi mereka akan tumbuh. Dia datang ke tempat saya tidak bisa jalan, pulangnya dari tempat saya sudah bisa jalan,” jelasnya.

Setelah kaki yang dipesan jadi, Pauzal juga mengaku mereka masih perlu diajarkan untuk bisa memakainya. Karena memang dibutuhkan waktu untuk belajar berjalan dengan menggunakan kaki palsu yang jelas berbeda dengan kaki asli manusia.

Harga yang dipatok Pauzal untuk pasien-pasiennya berjumlah Rp 3 juta untuk kaki palsu yang panjangnya di bawah lutut. Dan Rp 4 juta untuk yang di atas lutut. “Biaya ini bukan cuma untuk biaya kakinya. Tapi termasuk akomodasi selama mereka menginap di rumah saya,” katanya.

Pauzal mengaku kaki hasil karyanya bisa tahan bertahun-tahun. Bahkan hingga lima tahun, dan hanya butuh mengganti telapak kakinya saja. Untuk promosi produknya ini, Pauzal tidak pernah memasarkannya secara langsung. Melainkan dengan mengikuti pameran, perlombaan dan perkenalan dari mulut ke mulut.

Setelah apa yang dicapainya, pria asal Dusun Bangle Kecamatan Montong Gading ini berniat membuat kaki palsu gratis untuk yang membutuhkan dan membuat lembaga untuk pasien yang senasib dengannya. Untuk membuat kaki palsu gratis, telah berhasil dilakukannya dengan bantuan teman-temannya yang bersedia menjadi donatur.

“Alhamdulillah sudah bisa buat kaki gratis satu. Nantinya ingin buat lembaga atau rumah singgah. Karena di NTB tidak ada tempat untuk itu. Saat mereka diamputasi mereka mencari, di mana tempat untuk solusi masalah ini. Paling enggak seperti itu, jadinya bisa saling membantu,” ungkapnya. (ros)