Patroli Malam, Wakapolda NTB Ganti Omzet PKL yang Hilang Terdampak PPKM

Wakapolda NTB Ruslan Aspan berbincang dengan pedagang kaki lima saat patroli PPKM Level 4 Kota Mataram di Jalan AA Gde Ngurah, Cilinaya, Cakranegara, Sabtu, 24 Juli 2021.(Suara NTB/why)

PPKM Level 4 Kota Mataram berdampak besar pada perekonomian pedagang kaki lima. Terutama yang membuka dagangan dari sore hari. Mereka harus tutup lebih cepat. Tapi sebagai gantinya, Polda NTB membagikan Sembako. Bahkan dagangan mereka dibayar lebih tinggi.

Pembatasan kegiatan malam hari di masa pandemi Covid-19 keras dirasakan Anah. Janda satu anak yang berjualan pisang goreng di Jalan Jenderal Sudirman, Sayang-sayang, Cakranegara. “Belum ada laku ini Pak,” ujarnya yang ditinggalkan suaminya dua tahun lalu ini. Anah kedatangan Wakapolda NTB Brigjen Pol Ruslan Aspan malam itu yang sudah menunjukkan 30 menit meninggalkan pukul 21.00 Wita. Batas terakhir kegiatan usaha di Kota Mataram yang menerapkan PPKM level 4.

Iklan

“Ibu tidak usah takut. Kami datang bukan untuk menutup dagangan, Ibu. Kami hanya memberi imbauan,” kata jenderal bintang satu yang khas dengan kumis rapi itu. Ruslan membawakan Anah paket Sembako. Juga masker. “Kalau biasanya jualan semalam dapat dua sisir (pisang). Itu sekitar Rp100 ribu,” kata Anah. Anah malam itu dipesan untuk menutup dagangannya. Tapi sebagai gantinya, Ruslan membayar dagangan Anah tiga kali lipat omzet hariannya tersebut.

Demikian juga kepada Rah yang membuka warung kopi lesehan di seberang jalan warung dagangan Anah. Malam itu Rah masih buka. “Karena memang baru laku Rp15 ribu pak,” kata Rah ketika didatangi Ruslan. Seperti halnya, Anah. Rah juga dimintai menutup dagangannya. Tapi, diganti dengan Sembako, paket masker, dan uang tunai untuk menutupi penghasilannya malam itu. Rah diminta lebih taat di kemudian hari. Jika status PPKM Kota Mataram masih sama.

Ruslan yang ditemani Irwasda Kombes Pol Djoko Hari Utomo dan Dirlantas Kombes Pol Djoni Widodo kemudian beralih ke pedagang kaki lima di Jalan AA Gde Ngurah, Cilinaya, Cakranegara. Ditemukan warung kelontong masih buka dagangan. Wakapolda lalu menyempatkan diri berbincang dengan pemilik, Mur. Didapati keterangan bahwa Mur memang buka 24 jam. “Karena saya tidak punya rumah pak. Saya tinggal di sini juga. Makanya buka terus,” kata Mur.

Mur mengaku datang dari Lendang Nangka, Lombok Timur. Memilih berjualan di atas trotoar depan ruko kosong bersama satu anaknya. “Itungannya belum dapat apa-apa, pak. Tadi sudah dapat Rp100 ribu. Tapi sudah habis pakai beli dagangan lagi,” ucapnya. Ruslan pun mempersilakan Mur tetap berjualan tapi dengan catatan batas waktu. “Mudah-mudahan keadaan segera membaik. Semoga ikhtiar Ibu berkah,” kata Ruslan seraya menyerahkan paket Sembako, masker, dan uang tunai pengganti omzet jualan Mar.

Malam itu, Polda NTB mengerahkan 300 personelnya untuk berkeliling patroli pemantauan PPKM Level 4 Kota Mataram. Meski menemukan adanya pedagang berjualan lewat batas waktu. Mereka tidak serta merta langsung dibubarkan. “Kita memang niatkan untuk memberi imbauan dengan humanis sekaligus memberi bantuan kepada masyarakat yang kehidupannya serba susah, pedagang-pedagang kecil yang menurun jualannya. Kami harap ini bisa meringankan beban mereka,” tandas Wakapolda. (why)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional