Pasutri Mafia Tanah Jadi Tersangka TPPU Rp16,3 Miliar

Salah satu lokasi lahan di Pantai Surga, Keruak, Lombok Timur yang diduga dibeli pasutri tersangka TPPU penipuan investasi tanah Rp16,3 miliar. (Suara NTB/ist_Munif Ridhwan)

Mataram (Suara NTB) – Pasangan suami istri mafia tanah H Zaenudin dan Roheni ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang. Zaenudin menyamarkan uang hasil penipuan jual beli tanah Rp16,3 miliar melalui Roheni. Uang sudah menjadi aset tanah di kawasan wisata. “Iya istrinya sudah jadi tersangka. Yang suaminya ini yang mafia tanah,” beber Direktur Reskrimsus Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana dikonfirmasi Rabu, 22 Oktober 2020.

Terpidana penipuan H Zaenudin sudah lebih dulu menjadi tersangka TPPU. Dijerat pasal 3 juncto pasal 4 UU RI No8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Penyidikan Subdit II Ditreskrimsus Polda NTB kemudian menemukan keterlibatan Roheni. Roheni pun menyusul menjadi tersangka pasal 3, pasal 4, pasal 5, dan pasal 10 UU RI No8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Iklan

Eka menjelaskan, Roheni diduga sebagai tempat menampung, menyamarkan, dan menggunakan uang hasil penipuan jual beli tanah. Uang itu dipakai membeli aset. “Masih dalam bentuk sertifikat. Itu ada 14 atau 12 bidang,” terangnya. Selain dari keterangan saksi, penyidik menggunakan hasil penelusuran transaksi rekening H Zaenudin. Diantaranya uang ditarik tunai secara beruntun melalui ATM. Kemudian uang tunai disimpan Roheni di dalam lemari.

Roheni menggunakan uang Rp16,3 miliar dari H. Zaenudin membeli tanah lagi. Terutama di kawasan wisata. Mulai dari Keruak, Lombok Timur sampai Sekotong, Lombok Barat. Antara lain, menjadi 69 sporadik untuk lahan seluas 40 hektare di kawasan Buwun Mas, Sekotong, Lombok Barat, pembelian mobil, dan sepeda motor.

H. Zaenudin dengan alias Mamiq Zen, warga Selagalas, Cakranegara, Mataram ini sudah dihukum atas penipuan Rp16,3 miliar jual beli tanah. Di pengadilan tingkat pertama divonis tiga tahun enam bulan penjara. Di tingkat banding turun menjadi dua tahun enam bulan. Di tingkat kasasi pada September 2019 lalu, H Zaenudin dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.

Zaenudin menawarkan lahan kepada investor, Andre Setiadi Karyadi di Pandanan dan Meang, Sekotong, Lombok Barat; serta di kawasan Pantai Surga, Jerowaru, Lombok Timur. Total luasnya 8 hektare. Kuasa hukum korban, Andi Purwanto menerangkan pihaknya mengapresiasi laju penanganan kasus tersebut. “Kita berharap ada pengembangannya lagi. Dari bukti yang kami dapat, uang ini juga dipakai orang lain,” tegasnya. (why)