Pasokan Premium Kurang, Komisi IV DPRD NTB Panggil Pertamina

Mataram (suarantb.com) – Banyaknya laporan masyarakat terkait kurangnya pasokan BBM jenis premium membuat Komisi IV DPRD NTB memanggil Pertamina untuk menjelaskan kondisi tersebut. Laporan mengenai kurangnya pasokan premium yang dibarengi meningkatnya pasokan bahan bakar jenis lain di NTB membuat komisi IV menilai pihak Pertamina sengaja mengurangi pasokan secara perlahan untuk digantikan oleh bahan bakar jenis lain tersebut.

“Kami ingin menanyakan terkait banyaknya keluhan masyarakat mengenai kurangnya pasokan premium oleh Pertamina. Apakah itu disengaja tau tidak?,” tanya Ketua Komisi IV DPRD NTB, H. Wahidin M. Noer dalam rapat tersebut di Gedung DPRD NTB, Selasa, 4 Oktober 2016.

Iklan

Selain Wahidin, beberapa anggota Komisi IV lainnya juga mengajukan pertanyaan. Salah satunya H. Machsun Ridwaini, MBA yang menyatakan salah satu SPBU di Lombok Timur yang biasanya menerima 32 ton premium kini hanya menerima 16 ton saja. Hal tersebut menurut Machsun sangat merugikan masyarakat, karena sebagian besar masyarakat yang ada di Lombok Timur masih sangat besar kebutuhan premiumnya.

“Beda di kota dengan desa. Di desa premium masih banyak dibutukan masyarakat. Ketika nggak ada premium, terpaksa membeli pertamax dan pertalite,” ujarnya.

Hal tersebut dinilai Machsun menjadi indikasi, Pertamina sengaja mengurangi pasokan premium agar bahan bakar jenis lain seperti Pertamax dan Pertalite terpaksa dibeli masyarakat.

Kepala Depo Pertamina Ampenan,  M. Ali Basah membantah tudingan Komisi IV yang menyebut pihaknya sengaja mengurangi pasokan premium agar masyarakat beralih menggunakan pertamax dan pertalite tersebut. “Tidak ada kebijakan mengurangi, tetapi masyarakat yang memilih Pertalite sama Pertamax,” kilahnya.

Menurutnya, Pertamina tidak pernah mengambil kebijakan mengurangi sedikitpun pasokan premium. Kenyataan terkait banyaknya masyarakat yang berpindah dari premium ke Pertalite atau Pertamax selama ini murni keputusan pasar.  “Penyaluran distribusi tidak ada pengurangan. Pertamax dan Pertalite mengambil porsi premium karena sebagian masyarakat NTB pindah ke Pertlite dan Pertamax, omsetnya premium 30 persen diambil Pertamax,” sebutnya.

Hal tersebut menurut Ali merupakan pilihan pasar. Dimana masyarakat sendiri yang memilih berpindah dari premium ke bahan bakar yang lain. (ast)