Pasien Meninggal, Keluarga Korban Ancam Polisikan Tenaga Medis

Tanjung (Suara NTB) – Pelayanan RSUD Tanjung kembali dikeluhkan oleh keluarga pasien, hingga muncul ancaman untuk mempolisikan tenaga medis yang bertugas. Hal ini muncul setelah salah seorang pasien RSUD Tanjung bernama Anggi, 17 tahun, meninggal diduga, karena tidak dijalankannya SOP (Standar Operasional Prosedur) RSUD dengan baik.

Pasien Anggi diketahui merupakan korban kecelakaan, yang berasal dari Dusun San Baro, Desa Bentek, Kecamatan Gangga. Pascameninggalnya korban di RSUD Tanjung, Kamis, 8 September 2016 sejumlah keluarga korban histeris, sehingga mengundang perhatian warga. Emosi keluarga korban coba ditenangkan oleh sejumlah tenaga medis, hingga Kapolres Persiapan KLU, AKBP Rifai, SH.
Salah seorang keluarga korban, Asdiyanto, kepada wartawan mengaku korban meninggal adalah keponakannya. Korban sebelumnya mengalami kecelakaan pada Rabu, 7 September 2016 malam dan langsung dibawa ke RSUD. Korban sendiri mengalami luka di bagian kepala dan patah jari kaki.

Iklan

“Selama perawatan kami lihat tidak ada perkembangan, sehingga kami meminta agar dia dirujuk ke provinsi. Namun, Dokter tidak memberi izin dengan alasan lukanya tidak terlalu parah. Dokter yang menangani tetap mengacu pada hasil rontgen,” ungkap Asdiyanto.

Mendengar penjelasan dokter yang menangani, keluarga korban pun urung merujuk. Namun tak disangka, setelah dinyatakan luka pasien dapat ditangani, pasien justru mengalami kejang pada Kamis pagi, sekitar pukul 10.00 wita. Tak berapa lama, pasien pun dinyatakan meninggal.

“Saya akan menuntut, ini SOP yang tidak dijalankan atau pelayanan memang seperti ini. Tidak hanya dua atau tiga kali tetapi kejadian seperti ini sudah sering,” cetus Asdiyanto.

Dikonfirmasi perihal kronologi kondisi korban, petugas medis belum bisa memberi keterangan. Namun melalui Kabid Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD Tanjung, I Made Suasa, menerangkan pasien tiba di RSUD Tanjung pada Rabu, 7 September 2016 malam pukul 18.30 wita. Sesuai prosedur, dokter IGD yang bertugas telah mendiagnosa kondisi korban, dan dinyatakan korban menderita cedera di kepala dan patah jari kelingking.

“Kondisi pasien masih stabil pada pagi hari, sehingga pihak medis tidak merujuk, di samping ada jenjangnya untuk memberi rujukan. Namun tiba-tiba, Kamis pagi sekitar jam 10, pasien mengalami drop seketika, kesadaran menurun dan kondisinya tidak memungkinkan. Kita telah berupaya semaksimal mungkin,” klaim Suasa memberi pembelaan.

Terpisah, Kapolres Persiapan KLU, AKBP Rifai, SH., yang terlibat menenangkan keluarga korban di RSUD menilai emosional keluarga muncul secara spontanitas. Kondisi ini bisa terjadi pada siapapun.

“Persoalan itu sifatnya spontanitas dari pihak keluarga korban, kekecewaan mereka sangat wajar karena permintaan rujukan yang belum sempat ditindaklanjuti. Oleh keluarga korban, itu diduga membuat korban meninggal dunia,” ungkap Rifai.

Perihal ancaman untuk mengajukan persoalan ini ke ranah hukum, Kapolres persiapan KLU menyerahkan sepenuhnya kepada keluarga korban. Pihaknya akan menerima setiap pengaduan warga yang dilaporkan ke Polres persiapan. “Silakan melapor, asalkan jangan ada tindakan main hakim sendiri dan melanggar hukum,” tutupnya sembari menginstruksikan untuk mengawal mobil jenazah ke rumah duka. (ari)

FOTO

TAG :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here