Pasien Covid-19 Sembuh di Mataram Meningkat

Infografis

Mataram (Suara NTB) – Tren pasien sembuh Covid-19 di Kota Mataram meningkat. Hal ini menjadi tanda denyut ekonomi serta aktivitas sosial masyarakat segera pulih. Meskipun demikian, masyarakat harus tetap mentaati protokol kesehatan.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram, Drs. I Nyoman Suandiasa menyampaikan, tren ini memang menjadi harapan sehingga program penanganan Covid-19 berbasis lingkungan (PCBL) bisa menjadi pola efektif menekan warga yang positif dan menambah angka pasien sembuh.

Iklan

“Iya, memang ini yang kita harapkan selama ini. Melalui PCBL dapat menekan laju pasien positif,” kata Nyoman.

Pasien sembuh sampai Jumat, 12 Juni 2020 sebanyak 208 orang. Pasien masih dalam perawatan 128 orang dan meninggal 17 orang. Dari tingkat penyebaran merata di enam kecamatan. Kecamatan Ampenan memiliki tingkat kesembuhan tinggi mencapai 67 kasus, 68 pasien dalam pemantauan, 5 orang dalam pengawasan, 28 positif dan 4 orang meninggal dunia.

Kecamatan Selaparang dengan tingkat kesembuhan pasien Covid-19 30 kasus. 42 pasien dalam pengawasan, 5 orang dalam pemantauan, 20 pasien positif dan masih menjalani perawatan dan 2 orang meninggal dunia.

Kecamatan Cakranegara 36 orang sembuh, 23 PDP,4 ODP,15 positif dan menjalani perawatan dalam kondisi membaik dan 3 meninggal dunia. Kecamatan Sandubaya 19 orang sembuh, 34 PDP, 3 OPD, 22 positif dan masih perawatan dalam kondisi membaik dan 2 meninggal dunia. Kecamatan Mataram 33 pasien sembuh, 47 PDP, 9 OPD, 20 positif dan masih perawatan dalam kondisi membaik dan 2 meninggal dunia. Kecamatan Sekarbela 23 orang sembuh, 40 PDP, 13 ODP, 23 positif dan masih dalam perawatan dalam kondisi membaik dan 3 orang meninggal dunia.

Meskipun tren pasien sembuh meningkat kata Nyoman, Kota Mataram tidak pernah mengklaim akan menuju kenormalan baru atau new normal. Karena, tidak pernah ada pembatasan sosial berskala besar maupun mengunci wilayah. Normal baru memiliki persyaratan yang harus dipenuhi.

Program PCBL dinilai cukup efektif karena menciptakan partisipasi dari masyarakat. “Dengan komponen masyarakat terlibat maka PCBL semakin efektif. Komunitas masyarakat tidak lagi memberi stigma terhadap keluarga positif maupun PDP,” katanya.

Wabah Covid-19 tidak saja berbicara kesehatan. Tetapi sosial dan ekonomi terdampak. Pulihnya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat bukanlah keniscyaan karena selama hampir tiga bulan harus berdiam diri di rumah. Aktivitas dibatasi dan tidak cukup banyak membantu. Di satu sisi menurutnya, masyarakat harus berkompromi dan berdamai dengan Covid-19. (cem)