Pascapecah Kongsi F-PKN, DPRD KLU Dijamin Tetap Utuh

Tanjung (Suara NTB) – Keinginan politisi PDIP di DPRD Kabupaten Lombok Utara untuk membentuk atau mengubah nama Fraksi Perjuangan Kebangkitan Nasional menjadi Fraksi PDIP tak dibenarkan unsur Pimpinan DPRD. Oleh karenanya, sebagai sebuah konsekuensi akibat ditinggal 5 orang anggotanya, 3 Politisi PDIP di F-PKN harus legowo dan setia bernaung di bawah payung PKN.

“Sesuai PP 10 tahun 2016, pembentukan nama Fraksi bersifat tetap, fraksi tidak boleh berubah nama. Artinya, kawan-kawan dari PDIP tidak bisa membentuk Fraksi PDIP sesuai keinginannya,” tegas Wakil Ketua I DPRD KLU, Djekat Demung, dikonfirmasi Kamis, 17 November 2016.

Iklan

Menurut Politisi Golkar KLU ini, anggota F-PKN dibenarkan membubarkan diri dari Fraksinya, namun nama Fraksi tidak serta merta dapat diganti. Sebaliknya, Djekat melihat ada sisi positif keberadaan 3 orang anggota fraksi yang seluruhnya dari PDIP, yakni ketiganya tidak akan lagi terganggu oleh sejumlah keinginan politik dari anggota beda partai. Meski kekuatan F-PKN juga sedikit melemah pasca ditinggal anggota.

Djekat berpendapat, dalam Fraksi di DPRD KLU minimal diisi oleh 3 orang. Dalam konteks itu, PDIP memenuhi syarat. Ia meyakini pula, bahwa berkurangnya Anggota Fraksi PKN tidak akan mempengaruhi kinerja maupun akan berdampak kepada konflik internal di tubuh legislatif Lombok Utara.

“Oh kalau itu ndak, legislatif KLU tidak terpengaruh oleh perpecahan di Frakai PKN. Kita tetap utuh. Hanya saja, memang yang kasihan PDIP, tidak bisa pakai nama PDIP sebagai nama Fraksi mengikuti Golkar dan Demokrat,” sambungnya.

Djekat mengingat pula, bahwa jelang pembentukan Fraksi, unsur di F-PKN yang didominasi oleh PDIP dengan 3 anggota, sempat disarankan menamai Fraksi PKN dengan Fraksi PDIP. Hanya saja, saran itu digunakan oleh Ketua Fraksinya. Alih-alih mengikuti instruksi Partai untuk keluar dari PKN dan membentuk Fraksi sendiri, orang-orang di PDIP justru ditinggal oleh koleganya di Fraksi PKN.

  Kekurangan Pejabat 25 Orang, Pejabat “Lokal” Tak Dijamin Menjabat

Namun, Djekat menambahkan, bongkar pasang di tubuh Fraksi sudah lumrah terjadi di legislatif. Keluarnya 5 orang di F-PKN dan memutuskan masuk di F – Demokrat, menunjukkan bahwa demokrtaisasi masih berjalan dengan baik. Hanya saja, keluarnya anggota Fraksi juga bisa menunjuk kesan bahwa di internal Fraksi tersebut tidak terjalin komunikasi politik yang mengusung aspirasi politik lintas Parpol.

“Harapan kita, hal semacam ini tidak terjadi di Fraksi lain setelah apa yang dialami Fraksi PKN. Kalau Golkar, sudah pasti utuh. Begitu juga Demokrat, dengan masuknya 5 orang berarti menambah kekuatan politik Demokrat karena didukung Anggota Fraksi tergemuk, 10 orang,” demikian Djekat. (ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here