Pascabanjir, Warga Empang Gelar Aksi Peduli Lingkungan

Aksi damai dan doa bersama GMPL di Empang terkait penanganan banjir, Kamis, 27 Desember 2018. (Suara NTB/Ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (GMPL) Kecamatan Empang menggelar aksi damai dan doa bersama, pascabanjir di wilayah tersebut, Kamis, 27 Desember 2018. Mereka menuntut penanganan kawasan hutan lindung, normalisasi sungai, membangun talut penahan banjir dan lainnya.

Aksi yang diinisiasi Pemuda Empang tersebut berlokasi di halaman kantor Camat Empang. Dihadiri sejumlah Kepala Desa di wilayah tersebut dan masyarakat Empang. Aksi tersebut berlangsung damai. Dengan adanya delapan poin tuntutan oleh Ketua GMPL, Dwi Tio Hadiwahyudi, untuk langkah penyelesaian bersama terkait masalah banjir di Empang. Seperti rilis pernyataan sikap yang diterima Suara NTB.

Iklan

Tuntutan tersebut yakni, penanganan kawasan hutan lindung, dari hulu DAS Buas sampai Silli dan lainnya. Normalisasi sungai dari desa Jotang sampai desa Bunga Eja. Membangun talut penahan banjir, pengadaan TPA kecamatan Empang. Kemudian membentuk tim Pansus penanganan banjir, pengadaan tong sampah di masing masing desa, perbaikan pintu air reban Paria dan reban Lagenti. Serta meminta kepada semua pihak terkait, baik itu, pemerintah Kabupaten, Provinsi dan Pusat, untuk menindaklanjuti tuntutan tersebut selambat lambatnya satu bulan setelah aksi damai dimaksud.

“Dengan aksi damai dan doa bersama ini, diharapkan semua masyarakat sadar dan peduli akan lingkungan. Lebih khusus lagi tidak ada lagipembalakan liar di kawasan hutan. Serta perhatian khusus terhadap DAS yang menyebabkan banjir,” tandas Dwi didampingi Tokoh Pemuda Empang, M. Iqbal Sanggo.

Camat Empang, Surianto yang dikonfirmasi Suara NTB, menerima positif aksi damai tersebut. Setelah sebelumnya juga sudah berkoordinasi terkait aksi damai tersebut dengan mengundang unsur Muspika dan Para Kades. Mengingat Empang ini langganan banjir setiap tahunnya. “Ini adalah bentuk kepedulian pemuda terhadap masalah banjir,” terangnya.

Terkait beberapa tuntutan GMPL, sambung Camat, seperti pananganan hutan lindung, Januari 2019 mendatang, pihaknya bersama Pemkab Sumbawa dan KPH setempat (Ampang Kambaja) akan menggelar kemah bakti, penanaman pohon Kabupaten pada lahan seluas 75 hektar. Yang dipusatkan di kecamatan Empang. Dalam rangka HUT Kabupaten Ke 60. Kegiatan penanaman dipusatkan di desa Ongko Empang.

Selain itu, pihaknya juga menggalakkan Bank Sampah di Empang. Pihaknya mendukung upaya pengumpulan sampah di Empang. Untuk kemudian dikumpulkan di Bank Sampah. Selain menjaga kebersihan, sekaligus warga juga bisa mendapatkan uang dari Bank Sampah.

Untuk normalisasi sungai, pihaknya sudah bersurat ke Kabupaten melalui dinas dinas terkait. Mulai dari Dinas PUPR, Bappeda, PRKP, hingga BPBD tembusan ke Bupatii Sumbawa. Agar bisa dilakukan normalisasi sungai sepanjang delapan kilometer pada sungai yang terdampak banjir.

Sedangkan terkait tuntuutan saol TPA, Surianto yang baru sekitar satu bulan terakhir menjabat sebagai camat Empang, mendengar informasi soal sudah tersedianya lahan TPA aset milik Pemkab. Namun belum difungsikan masyarakat. Terkait hal ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak Aset Pemkab. Kemudian menggelar rapat koordinasi dengan para Kades dan tokoh masyarakat terkait masalah penggunaan TPA ini. Sementara soal tuntutan pembentukan tim Pansus Banjir, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pihak Kabupaten dan pihak lainnya pada Januari mendatang. Tentu dalam Pansus nanti juga akan melibatkan pemuda dari GMPL.

“Kita akan rapat mengundang Kades dan tokoh masyarakat tentang TPA ini. Sekaligus kita akan koordinasi dengan Kabupaten,” tukasnya. Seraya mengatakan, pemerintah tentu akan berupaya menuntaskan persoalan banjir yang ada di Empang. Hanya saja penyelesaiannya membutuhkan waktu. (arn)