Pasca Kebijakan Arab Saudi, Bagaimana Nasib Calon Jemaah Haji NTB?

Ilustrasi ibadah haji di Mekah. (Sumber: Abdullah Shakoor/Pixabay)

Mataram (Suara NTB) – Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) NTB berharap, penutupan sementara ibadah umrah ke Arab Saudi tak berimbas terhadap pelaksanaan ibadah haji tahun 2020.

Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag NTB, H. M. Ali Fikri, Kamis, 5 Maret 2020 menjelaskan pihaknya belum mendapatkan informasi resmi kapan penghentian sementara umrah ke Arab Saudi akan dibuka kembali.

Iklan

Meskipun, saat ini Pemerintah Indonesia melakukan negosiasi kepada Arab Saudi untuk kembali membuka kunjungan umrah ke sana.

Menurut Fikri, tak ada satupun negara yang bisa mengintervensi Pemerintah Arab Saudi. Ia menjelaskan Arab Saudi punya protap atau Standard Operational Procedure (SOP) tentang kesehatan yang jauh lebih ketat dibandingkan negara-negara lainnya.

Ia mencontohkan apabila ada orang atau jemaah yang kena penyakit tuberkulosis akibat bakteri saja. Mereka diasingkan ke rumah sakit yang berada di tengah padang pasir. Apalagi Corona merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus.

Jika situasi seperti sekarang ini terjadi hingga menjelang pelaksanaan ibadah haji 2020, Fikri memperkirakan pelaksanaan ibadah haji 2020 bisa saja tertunda akibat virus Corona jika melihat sikap kehati-hatian Pemerintah Arab Saudi. “Tapi mudah-mudahan jangan seperti itu,” harapnya.

Ia menyebut Indonesia penyumbang jemaah umrah terbanyak kedua setelah Iran. Sekarang, kasus virus Corona di Iran yang dekat dengan Arab Saudi sudah cukup tinggi.

Terkait dengan jemaah umrah asal NTB yang gagal berangkat, Fikri mengatakan pihaknya akan melakukan rapat konsolidasi dengan Polda, Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Kemenag kabupaten/kota. Intinya, semua PPIU yang sudah didaftarkan jemaahnya dan gagal berangkat umrah menjadi tanggungjawab travel masing-masing.

“Kami konsolidasi untuk menangkan semua jemaah masing-masing, travel juga bertanggungjawab atas kebijakan Arab Saudi,” katanya.

Ia menyebutkan jumlah travel umrah yang terdaftar di Kanwil Kemenag NTB sebanyak 34 travel. Ditambah dua travel umrah pusat yang punya kantor cabang di NTB. Kemenag NTB akan merekomendasikan beberapa hal. Kapanpun ibadah umrah kembali dibuka, maka semua jemaah yang gagal berangkat menjadi tanggungjawab travel umrah atau PPIU.

Bagi jemaah yang gagal berangkat, ia berharap tak perlu cemas. Karena keputusan Kementerian Agama mengenai masalah ini sudah sangat jelas. Dipastikan semua biaya akomodasi yang telah dikeluarkan jemaah tak akan hangus. Jemaah juga tak akan dikenakan biaya tambahan apapun.

“Bagi jemaah tak usah panik, risau. Kalau sudah jadwal pemberangkatan dan sebagainya pasti akan berangkat umrah. Dalam hal ini Kementerian Agama melindungi semua calon jemaah umrah,” katanya.

Fikri mengatakan pembatalan keberangkatan jemaah umrah asal NTB tersebut untuk kebaikan bersama. Menurutnya, tak ada artinya pergi umrah dalam kondisi was-was seperti saat ini akibat virus Corona.

Fikri menyebutkan jumlah jemaah yang mengurus visa pada Januari sebanyak 1.482 orang, sedangkan pada bulan Februari sebanyak 2.171 orang. “Tapi yang berangkat sampai bulan Februari kemarin sekitar 608 orang,” tandasnya. (nas)