Pasca Banjir Bandang, Lotim Berstatus Tanggap Darurat

Mataram (suarantb.com) – Pasca banjir bandang yang menerjang empat kecamatan di Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Mohammad Rum menyampaikan kabupaten tersebut ditetapkan sebagai daerah tanggap darurat bencana banjir. Status tanggap darurat ini berlaku selama seminggu, sejak Sabtu lalu, 18 November hingga 24 November 2017.

“Lotim telah ditetapkan berstatus tanggap darurat bencana banjir, itu berlaku sejak sejak Sabtu lalu, 18 November hingga 24 November 2017. Setelah tanggap darurat ini, ada posko penunjang yang dibangun di Kantor Camat Keruak. Kepala BPBD Lombok Timur juga sudah ditetapkan sebagai Incident Commander,” jelas Rum, Senin, 20 November 2017.

Iklan

Banjir bandang yang melanda Lombok Timur menurut data terkini yang diterima BPBD NTB telah mengakibatkan kerusakan pada ratusan rumah. Sebanyak 578 kepala keluarga (KK) atau 2.280 jiwa terdampak, dan ratusan jiwa sempat mengungsi.

“Banjir juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur, yakni 20 buah jembatan desa rusak, satu unit gardu listrik di Desa Sepit rusak, lima tiang listrik tumbang, dan akses air bersih putus,” katanya.

Penyebab dari banjir ini dipastikan Rum bukanlah jebolnya Bendungan Pandandure. Kondisi bendungan tersebut bahkan diyakininya dalam kondisi aman. “Tidak ada Bendungan Pandan Duri yg jebol, jadi dipastikan aman. Pandandure tidak meluap, bisa jadi malah lebih besar banjirnya, tentunya daerah kiri kanan akan kena juga dong. Tidak benar itu jebol atau meluap,” sahutnya.

Menurut Rum penyebab banjir itu hujan yang turun dalam intensitas tinggi. Sementara saluran dan sungai tidak siap menampung debit air. Terjadinya sedimentasi, banyaknya bangunan yang mepet dengan sungai juga mengurangi kapasitas sungai.

Selain itu, beberapa jembatan desa yang menghubungkan antar dusun menggunakan pilar tengah. Pilar tengah inilah yang menjadi penghambat aliran air. “Karena banjir pasti membawa material sampah, karena ada jembatan ini tentunya tertahan di sana, numpuk-numpuk. Sehingga saat hujan tinggi meluaplah sungai ke masyarakat di sekitarnya. Kalau saja lancar air itu sebenarnya mungkin tidak akan terjadi banjir,” tandasnya. (ros)