Pasar Seni Sayang-Sayang Mati Suri

0
Salah seorang perajin di Pasar Seni Sayang-Sayang menunggu pelanggan. Sejak pandemi Covid-19 menyebar di NTB, pelaku usaha di pusat kerajinan tersebut juga mengalami dampak signifikan. Terutama dengan jumlah pengunjung yang menurun drastis.(Suara NTB/bay)

Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram mencanangkan beberapa program untuk meramaikan Pasar Seni Sayang-Sayang. Hal tersebut dibutuhkan untuk menghidupkan kembali pusat kerajinan yang saat ini terkesan mati suri.

“Kami sepakat akan membuat beberapa kegiatan di situ, terutama untuk menghidupkan kembali pasar seni. Karena sekarang ini kondisinya sudah tidak representatif lagi,” ujar Kepala Dispar Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi, Senin, 28 Juni 2021.

IKLAN

Menurutnya, program yang akan dibuat serupa dengan Sunday Music yang kerap digelar pihaknya. Selain itu, akan dibuat juga beberapa kafe untuk menjadi tempat berkumpul masyarakat di Kota Mataram. “Tapi sekarang ini masih zero budget. Jadi kerja kolaborasi, kami ajak kerjasama teman-teman EO (event organizer) untuk menghidupkan kembali suasana di Pasar Seni,” jelasnya.

Diterangkan, kesiapan anggaran untuk program tersebut memang belum ada. Mengingat seluruh anggaran di Dispar Kota Mataram terkena realokasi untuk penanganan pandemi Covid-19. Untuk itu, kerja kolaborasi lebih dikedepankan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

“Jadi akan kita lakukan seperti konsep di RTH Pagutan atau di depan Taman Sangkareang. Tapi sekarang kan tidak boleh lagi (kegiatan) di ruang terbuka, jadi kita pilih di situ. Tentu dengan pembatasan-pembatasan untuk memastikan prokesnya nanti,”ujar Denny.

Pemilik toko di Pasar Seni Sayang-Sayang, Husnayadi menyambut baik rencana Dispar Kota Mataram tersebut. Terutama untuk meningkatkan jumlah pengunjung yang mengalami penurunan drastis sejak pandemi Covid-19 berlangsung.

“Kita mendukung saja. Kalaupun ada yang perlu diatur, barangkali jamnya. Karena sejak sepi ini kita biasanya buka sampai jam enam sore saja. Beda waktu ramai dulu, kita bisa sampai jam 10 malam,” ujarnya saat ditemui Suara NTB, Senin, 28 Juni 2021.

Menurutnya, kondisi pedagang di Pasar Seni memang serba sulit. Di mana wisatawan yang sebelumnya menjadi pasar utama tidak lagi datang ke pusat kerajinan tersebut. “Karena itu sekarang kita datang kalau senggang saja. Selebihnya kita jualan online lewat Facebook dan lain-lain,” jelasnya.

Kondisi itu disebut Husnayadi telah berlangsung lebih dari satu tahun. Di tengah situasi sulit, pihaknya bersyukur pemerintah menunda penarikan retribusi sewa toko di pasar seni tersebut. “Per tahunnya kita bayar Rp5,5 juta. Untung sampai sekarang belum ada penarikan, karena memang sedang sepi. Karena itu, kalau ada program supaya di sini ramai kita sangat mendukung,” ujarnya.

Pemilik Dinda Handicraft Shop, Ahmad Zulkarnaen juga menyambut baik rencana tersebut. Kendati demikian, pihaknya berharap Pemkot Mataram melalui Dispar Kota Mataram juga membantu promosi hasil kerajinan yang dihasilkan pelaku usaha di Kota Mataram.

“Karena kalau yang dipilih acara musik, kita belum tahu kelompok pasarnya bagaimana. Kalau bisa mungkin acaranya itu pertunjukan-pertunjukan tradisional seperti Presean dan lain-lain,” ujarnya. Selain itu, pihaknya berharap Dispar Kota Mataram dapat membantu menyusun materi promosi guna menarik potensi wisatawan dari gelaran MotoGP yang dijadwalkan 2022 mendatang.

“Mungkin bisa dikomunikasikan bahwa di Kota Mataram itu bisa city tour, salah satunya mengunjungi Pasar Seni. Karena untuk pasar kapal pesiar saja, kita sering dilewati. Padahal dari segi harga dan kualitas teman-teman di Pasar Seni Sayang-Sayang ini tidak kalah dari yang lain. Kalau komunikasinya bagus, kita barangkali bisa dilirik,” tandas Ahmad. (bay)