Pasar Mete di NTB Makin Mengggiurkan

Mataram (Suara NTB) – Pasar biji jambu mete cukup menggiurkan. Salah satu perusahaan raksasa, PT. Mayora membutuhkan bahan baku dari biji mete dalam jumlah cukup besar. Kebutuhannya sampai 100-an ribu ton setahun. Ini peluang besar bagi masyarakat, didukung pemerintah.

Ada beberapa perusahaan yang masih eksis membeli bahan baku mete dari NTB. PT. Japa Mente, dan PT. Sekar Alam. Kebutuhannya setahun di kisaran 3000-an ton masing-masing perusahaan. Ditambah lagi PT. Mayora yang mulai serius menggarap NTB, sebagai lumbung pemasok bahan bakunya.

Iklan

Hal ini dikemukakan L. Wahidin, pengepul utama biji mete di NTB. Boleh dibilang, L. Wahidin pemain utama, spesialis bisnis mete. Baru-baru ini ia diundang khusus oleh Mayora, bertandang ke perusahaan produsen makanan terkemuka dalam negeri ini melihat langsung pabrik Mayora di Makassar.

Wahidin diundang khusus oleh manajemen perusahaan raksasa nasional ini, dalam rangka membahas potensi produksi mete di NTB kedepannya.

Dari sana diketahui, dalam setahun, Mayora membutuhkan bahan baku 100-an ribu ton. Ada tiga provinsi yang diandalkan menjadi pemasoknya. Sulawesi, NTB dan NTT. Sementara keadaannya di NTB, mete masih dipandang sebelah mata, terutama oleh pemerintah.

Dari kebutuhan perusahaan sebesar itu, di luar kebutuhan dua perusahaan lainnya, L. Wahidin memproyeksikan produksi mete di NTB setahunnya sekitar 20.000 ton. Dengan rata-rata kemmapuan ia memasok bahan baku hanya 5.000 ton sampai 8.000 ton setahun. Masih jauh dari kebutuhan yang dilahap perusahaan.

Sementara di sisi lain, produksi mete di dalam daerah sebaliknya tak berkembang signifikan. Bahkan di Dompu, petani mulai melakukan pembabatan. Lalu beralih ke tanaman tebu. Disinilah diharapkan peran pemerintah, terutama dinas yang membidangi perkebunan.

Masyarakat harus diedukasi untuk tidak membabat, namun harus dilakukan peremajaan. “Jangan biarkan masyarakat salah langkah,” pesannya.

Ditemui di Mataram, Kamis, 8 Maret 2018 kemarin, L. Wahidin mengemukakan kondisi mete di NTB. umumnya, komoditas perkebunan ini rata-rata telah berusia tak produktif. Bahkan di Dompu, usia mete sudah mencapai 25 tahun. Sementara, idealnya usia produktif pohonnya maksimal 10 tahun. Dan harus dilakukan peremajaan.

Pembelian biji mete ditingkat petani Rp 26.000/Kg. Dalam satu hektar, petani mampu menghasilkan sampai 8 ton, bila perawatan pohonnya diperhatikan. Terutama soal pemupukan. Mete menghasilkan buah selama tujuh bulan nonstop. Dalam setahun, 1 hektar hitung-hitungannya mampu menghasilkan Rp 60 juta.

Harusnya petani tak melakukan pembabatan. Karena pohon mete bisa ditumpang sari dengan jagung. Masa produksi mete yakni bulan Bulan Juli sampai Februari. Sementara jagung bisa ditanam sejak Bulan Februari dan menghasilkan hingga Juni. (bul)