Pasar Lebaran Dibuka, Dikes Bima Ingatkan Ancaman Covid-19

Pengunjung dari berbagai wilayah mulai berdatangan mengerumuni pasar lebaran di Ama Hami, Selasa, 4 Mei 2021. (Suara NTB/ist)

Bima (Suara NTB) – Kebijakan Pemkot Bima mengizinkan pasar lebaran di komplek Pasar Raya Ama Hami, dikhawatirkan memicu penyebaran Covid-19. Terlebih, saat instansi teknis terkait menggenjot capaian imunisasi vaksin bagi lansia untuk menekan rantai penularan dan angka kematian.

Berjubelnya pengunjung dari berbagai daerah berpotensi besar membuat ledakan kasus positif pasca Idul Fitri 1442 H. Apalagi di tengah ancaman Covid-19 dengan tiga varian baru yang sudah mulai masuk wilayah Bali.

Iklan

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Bima, Ahmad, S.Sos, dikonfirmasi persoalan itu pada Selasa, 4 Mei 2021 cukup menyesalkan adanya izin pelaksanaan kegiatan ini.

Mestinya, menurut dia, izin yang dikeluarkan baik oleh Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag), Polres Bima Kota dan Pemkot Bima harus melalui pengkajian secara mendalam.

“Sebenarnya izin untuk mengadakan itu harus dipelajari. Apa ia panitia itu mampu menjaga jarak pembeli, kalau lapak ya bisa dijaga dan diatur. Tapi berjubelnya manusia lihat saja nanti, ya mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Ini sudah berlawanan dengan prokes,” ungkapnya.

Menyadarkan masyarakat untuk menggunakan masker saja cukup sulit. Apalagi memastikan setiap pengunjung pasar lebaran intens cuci tangan dan menjaga jarak. Ironinya, kegiatan itu berlangsung saat tenaga medis pada tiap puskesmas dan rumah sakit berjuang mencapai target imunisasi vaksin bagi lansia.

Mengingat pelaksanaan pasar lebaran tersebut sudah mendapat izin dari pemangku kebijakan, pihaknya tidak bisa berbuat banyak.

Pelaksanaan pasar lembaran di Ama Hami, ungkap Ahmad, merupakan permintaan Asosiasi Pedagang Seluruh Indonesia (APPSI). Surat permohonan tertanggal 2 Mei 2021 dengan nomor 007/APPSI/PAN-PEL/V/2021 kemudian mendapat izin tempat dari Diskoperindag. Untuk pelaksanaan kegiatan izinnya dikeluarkan Polres Bima Kota dan rekomendasi langsung dari Pemerintah Kota Bima.

Dalam rekomendasinya, pemerintah menekankan agar pengunjung tetap mentaati protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, melalui proses pemeriksaan suhu tubuh, menjaga jarak minimal satu meter dan menghidari kerumunan. “Tapi fakta di lapangan justru berbanding terbalik,” keluhnya.

Sesuai surat permohonan, pelaksanaan pasar lebaran akan berlangsung 10 hari kedepan, tepatnya 3-12 Mei 2021. Bagi Ahmad, ini bukan waktu yang singkat. Sehingga berpeluang besar memicu ledakan kasus positif Covid-19 baru di Kota Bima.

Keputusan yang telah diambil pemangku kebijakan, memberi kesan pemerintah tidak serius mengatasi persoalan Covid-19. Karena selain ditemukan pengunjung tak menggunakan masker, hampir tak ada jarak diantara mereka.

“Ya kita berdoa saja mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Ini pasti berpotensi memunculkan kasus Covid-19, tapi untuk varian barunya saya belum berani berkomentar,” pungkasnya. (jun)

Advertisementfiling laporan pajak ucapan idul fitri ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional