Pantai Jempol Jadi Langganan Terima Sampah Kiriman

Tumpukan sampah kiriman di Pantai Jempol beberapa waktu lalu. (Suara NTB/ind)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Pantai Jempol (Jembatan Polak), Labuan Sumbawa, Kecamatan Labuan Badas merupakan salah satu destinasi wisata kuliner di Kabupaten Sumbawa. Di musim penghujan, pantai ini kerap menjadi langganan tumpukan sampah kiriman. Terutama saat banjir dan besarnya gelombang laut.

Menumpuknya sampah di pinggir pantai setempat terlihat pada Rabu, 23 Januari 2019 lalu. Untuk membersihkan sampah tersebut masyarakat pun bersama pemerintah desa, kecamatan dan pemerintah daerah bergotong royong. Informasinya, tumpukan sampah ini rutin terjadi ketika musim penghujan. Bahkan ketika terjadinya banjir, sampah-sampah menumpuk di sepanjang pinggir Pantai Jempol, Saliper Ate hingga Pantai Goa.

Iklan

Salah satu warga Dusun Kampung Pasir, Murdali, yang ditemui Suara NTB, Jumat, 25 Januari 2019 kemarin, mengakui, wilayah setempat kerap dipenuhi sampah kiriman. Terutama saat terjadinya banjir dan besarnya gelombang laut. Mengingat wilayah setempat dikelilingi beberapa sungai. ‘’Ini sampah kiriman dari sungai. Karena kita di sini dikelilingi oleh beberapa sungai. Sehingga setiap air bah banyak menumpuk (sampah),” ujarnya.

Banyaknya sampah yang menumpuk beberapa hari lalu masih tergolong kecil jika dibandingkan tahun lalu. Biasanya dimulai dari bulan Januari dan puncaknya bulan Februari. Tahun lalu jumlahnya lebih banyak, mulai dari sampah plastik hingga batang pohon. ‘’Biasanya bulan 2 puncaknya. Kalau yang kemarin masih kecil. Lebih parah yang tahun lalu,’’ kata Murdali.

Kades Labuan Sumbawa, Kamiruddin, S.AP mengakui sampah kiriman kerap kali menumpuk di sepanjang pantai terutama di wilayah Dusun Kalibaru dan Dusun Pasir. Hal ini rutin terjadi setiap tahun. Mengingat dikelilingi dua sungai yakni Sungai Pamulung dan Sungai Brang Biji. Ketikan terjadinya banjir dan gelombang besar maka sampah menumpuk di pinggir pantai.

‘’Kalau terkait tumpukan sampah kemarin itu rutin setiap tahun. Dan ini merupakan sampah kiriman. Kita di Labuan ada dua sungai, Pamulung dan Brang Biji. Ketika banjir, maka sampah terbawa ke laut. Ketika gelombang besar, maka menumpuklah di pinggir pantai,’’ ujarnya

Disebutkannya, tumpukan sampah beberapa waktu lalu baru yang pertama di tahun 2019 ini. Namun tumpukan sampah tersebut setiap tahun terjadi. Biasanya puncaknya terjadi di bulan Februari. Di mana tahun lalu lebih besar dari tahun ini. Untuk membersihkan sampah, pihaknya bersama masyarakat melakukan gotong royong.

Pihak Pemda juga ikut dalam upaya pembersihan. ‘’Jadi kami agendakan rutin sudah setiap tahun gotong royong pascabanjir dan adanya ombak besar. Bahkan tahun lalu semua pegawai Pemda diturunkan ke sini untuk gotong royong. Alat berat juga diturunkan, karena sampai kayu besar ada di pinggir pantai,’’ jelasnya.

Sejauh ini, pihaknya tetap memberikan imbauan kepada masyarakat setempat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Di mana masyarakat pun tetap membersihkan sampah, karena sepanjang pantai merupakan tempat wisata yang sering dikunjungi.

Bahkan kedepan pihaknya juga akan menyiapkan kendaraan tiga roda untuk pengangkut sampah di setiap dusun. Termasuk akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup terkait pola pengangkutannya. Pihaknya berharap persoalan sampah ini kedepannya bisa teratasi. ‘’Harapan kita supaya persoalan sampah ini bisa teratasi. Tentunya butuh kerjasama semua pihak. Baik dinas instansi maupun masyarakat.’’

Terpisah, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (LH), Abdul Malik, S.Sos menyampaikan, penumpukan sampah di wilayah pinggir pantai saat musim penghujan tidak bisa dipungkiri. Karena ketika aliran sungai brang biji besar, sampah yang ada ikut terbawa. Mengantisipasi persoalan itu pun, pihaknya melakukan koordinasi dengan Pemerintah Desa Labuhan Sumbawa yang merupakan lokasi hilir Sungai.

Guna mengurangi sampah kiriman ini dibutuhkan dukungan dari semua pihak. Khususnya warga yang berada di bantaran sungai. Mengingat sejauh ini masih ada masyarakat yang membuang sampah di sungai. Hal inilah yang membuat banyaknya sampah menumpuk di wilayah hilir.

‘’Strategi sekarang yang akan kami coba adalah melakukan penyuluhan bagi warga di bantaran sungai,’’ katanya.

Sebelumnya, Pemkab Sumbawa bersama Pemprov NTB, telah mencanangkan gerakan gotong royong 60 menit sekaligus kampanye zero waste di bantaran kali sepanjang sungai dalam kota. Untuk membersihkan sampai di wilayah bantaran kali yang menumpuk. Mengingat masalah sampah ini sangat klasik sehingga dibutuhkan kesadaran kolektif masyarakat.

Wagub NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, juga mengajak untuk menggalakkan bank sampah pada semua desa di NTB. Mengingat sampai saat ini, progres pemilahan dan pengolahan sampah di NTB termasuk di Sumbawa masih sangat rendah atau persentasenya masih sangat kecil.  Seperti disampaikan Wagub dalam kunjugannya ke Sumbawa akhir Desember 2018  lalu. Wagub mengajak setiap desa untuk membentuk bank sampah. Modalnya juga murah hanya sekitar Rp 20 Juta.

“Kita harus bisa mengedukasi masyarakat soal pemilahan sampah ini. Sampah anorganik seperti sampah plastik dan kaleng bisa dijual menjadi uang. Sampah jadi berkah. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos. Di beberapa tempat saya lihat, sampah bisa dibawa untuk membayar puskesmas bahkan transportasi umum. Anak anak sekolah dari rumah ke sekolah bisa membawa sampah untuk dijual sebagai uang jajan atau tabungan sekolah,”terang Rohmi.

Impiannya, bank sampah bisa hadir di setiap desa. Bagaimana bisa merata di setiap desa.  Sehingga masyarakat bisa teredukasi soal sampah ini. Kalau masalah sampah bisa tertangani, maka persoalan lainnya akan jauh lebih mudah diselesaikan. Kalau lingkungan bersih, maka orang akan betah datang dan berkunjung. (ind/arn)