Pandemi Sisakan Empat “Money Changer”

Ketua APVA Provinsi NTB, Darda Subadra (kiri) mengawasi pelayanan penukaran valas di money changer miliknya, PT. Tri Putra Darma Valuta, di Jalan Langko Mataram. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pandemi Covid-19 memukul telak bisnis penukaran valuta asing (valas). Saat ini tersisa empat money changer, dari 14 yang ada di Pulau Lombok. Bisnis penukaran valuta asing berisisan langsung dengan sektor pariwisata. Ketika pandemi telah melumpuhkan sektor ini, otomatis dampaknya juga dirasakan langsung para pengusaha valas.

 

Iklan

Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) Provinsi NTB, Darda Subadra di kantornya, Jumat, 27 Agustus 2021 menyebutkan, sejak pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, para pengusaha valuta asing rontok hingga memasuki tahun kedua pandemi corona ini. Sebelumnya, ada 14 perusahaan valas di Pulau Lombok. dari jumlah tersebut, hanya empat perusahaan diantaranya yang berusaha bertahan.

 

10 lainnya sudah memilih tutup. Meskipun tutup sementara hingga waktunya dirasa memungkinkan. Darda memperjelas, yang masih bertahan inipun menyesuaikan jam pelayanannya. Yang tadinya membuka layanan sampai malam, dibatasi sampai sore. Atau yang tadinya melayani penukaran sampai sore, dibatasi hanya setengah hari.

 

Empat money changer yang beroperasi ini, kata Darda, tiga diantaranya ada di Kota Mataram, dan satu lainnya di Senggigi, Kabupaten Lombok Barat. Lainnya yang tadinya beroperasi di destinasi-destinasi wisata sudah ditutup. Karena tidak lagi ada wisatawan yang berkunjung. “Bisnis valuta asing ini hubungannya erat dengan sektor pariwisata. Makanya ketika tidak lagi ada penerbangan luar negeri, atau pemerintah membatasi penerbangan, ya dampaknya langsung sangat terasa,” ujarnya.

 

Darda, pemilik money changer PT. Tri Putra Darma Valuta juga menyebut, dua outlet pelayanan penukaran valas miliknya, hanya satu yang bertahan beroperasi. Yaitu di Jalan Langko  Kota Mataram. Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan yang masih beroperasi inipun hanya sekedarnya. Mengingat, persentase penukaran dari keadaan biasanya turun bahkan sampai 80 persen. “Yang ada ini ya, hanya bertahan. Sampai kapan, kita ndak tau,” jelas Darda.

 

Sepinya tingkat penukaran ini juga terlihat langsung kemarin. Beberapa lama berdiskusi, hanya satu orang yang datang melakukan penukaran valas. Lalu siapa yang diharapkan jika wisatawan sepi? Darda juga menjelaskan, mengharapkan wisatawan asing tentu sangat berat saat ini. Jumlah penerbangan yang masuk ke Lombok sangat kurang.

 

Bahkan wisatawan yang sebelumnya banyak masuk melalui jalur penyeberangan cepat Bali-Gili Trawangan, pun kini sangat sepi. “Yang kita harapkan ya uang-uang asing yang masih tersimpan. Yang dibawa oleh pekerja dari Malaysia atau dari Timur Tengah,” imbuhnya. Jika melihat tren penukaran, saat ini mata uang terbanyak yang ditukar adalah Ringgit Malaysia. Kemudian Riyal Arab Saudi. Kemudian Dolar AS yang masih disimpan oleh pengusaha-pengusaha. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional