Pandemi Covid-19 Pengaruhi Target Investasi di Mataram

Kondisi di salah satu pusat perbelanjaan di Mataram terlihat sepi, Sabtu, 1 Agustus 2020. Penyebaran Coronavirus Disease atau Covid-19 mempengaruhi target investasi di Kota Mataram. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Penyebaran Coronavirus Disease atau Covid-19 tidak saja berdampak ke kesehatan, tetapi juga mempengaruhi target investasi di Kota Mataram. Target Rp1,5 triliun yang ditetapkan oleh Pemprov NTB tidak terjadi keseimbangan dengan pendapatan asli daerah (PAD).

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Mataram, Irwan Rahadi menjelaskan, penyertaan modal berkaitan dengan pengajuan izin oleh masyarakat. Semakin banyak yang mengurus izin secara otomatis penyertaan modal (investasi) mengikuti karena pelayanannya melalui sistem. “Perhitungan semakin banyak yang mengurus izin maka semakin meningkat penyertaan modal. Ini akan masuk by system,” jelas Irwan dikonfirmasi pekan kemarin.

Iklan

Investasi di Kota Mataram ditargetkan oleh Pemprov NTB mencapai Rp1,5 triliun. Jika dilihat dari keseimbangan antara PAD dengan target investasi dinilai tidak seimbang. Pengusaha yang mengurus izin harus memperhatikan lahan pangan pertanian berkelanjutan serta semakin sempitnya lahan. Perda rencana tata ruang wilayah (RTRW) kata Irwan, tetap menjadi acuan dalam setiap penerbitan izin usaha. “Iya, kondisi Mataram memang begini,” ujarnya.

Dari target Rp1,5 triliun di tahun 2020 diakui, cukup berat. Apalagi dengan kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini. Maksimal target investasi diharapkan mampu tercapai 75 persen. Sementara, target PAD dari retribusi perizinan saja dirasionalisasi. Rasionalisasi target turun 50 persen dari sebelumnya Rp4 miliar turun menjadi Rp2 miliar.

Menurutnya, selama pandemi ini pengusaha terlihat menahan diri untuk berinvestasi.Tetapi dengan wacana menuju tatanan kehidupan baru, pihaknya mencoba melakukan akselerasi untuk meningkatkan pelayanan.

Pihaknya melihat dunia usaha sudah mulai menggeliat dengan adanya penyertaan modal di perusahaan. Beberapa hotel sambung Irwan, sudah berkonsultasi untuk pengembangan usaha mereka. Kesempatan ini dijadikan momentum untuk meyakinkan masyarakat bahwa sudah saatnya kembali ke kehidupan normal walaupun Kota Mataram masih zona merah. “Artinya, kita tidak bisa berdiam diri. Hotel sedang digarap untuk izin UKL dan UPL,” jelasnya.

Irwan menambahkan, sejak dibuka pelayanan perizinan secara langsung bahwa volume berkas perizinan setiap hari sebenarnya telah normal. Perlu dioptimalkan adalah pelayanan perizinan yang sifatnya kecil dapat digarap untuk peningkatan PAD. Seperti pembangunan pertokoan, perumahan dan rumah kos serta hotel skala kecil. “Kita tidak melihat dari yang besar saja. Justru dioptimalkan itu perizinan yang kecil untuk peningkatan PAD,” jelasnya.

Hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat sudah mengambil peran. Berbeda dengan tiga bulan saat pandemi, masyarakat sama sekali pasif mengurus perizinan baik secara online maupun langsung. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here