Pandemi Covid-19, Kerugian BIZAM Terus Membengkak

Aktivitas penerbangan di BIZAM sejauh ini belum juga normal, dampak Covid-19. PT. AP I LIA pun tahun ini diperkirakan bakal mengalami kerugian.(Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Tahun lalu PT. Angkasa Pura  (AP) I Lombok Internatioal Airport (LIA) selaku pengelola Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (BIZAM) mencatat kerugian sebesar Rp66 miliar. Catatan tersebut menjadi rekor kerugian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut. Kondisi yang hampir sama diperkirakan bakal terulang kembali tahun ini.

Bahkan kerugiaan tahun ini diprediksikan semakin membengkak dan berpotensi memecahkan rekor nilai kerugian sebelumnya, efek pandemi Covid-19 yang terus berlanjut. “(Jelas) rugi, bisa jadi sama dengan tahun lalu,” tutur Stakeholder Relationship Manager PT. AP I LIA, Arif Harianto, saat dikonfirmasi Suara NTB, terkait kondisi penerimaan bandara, Kamis, 29 Juli 2021.

Iklan

Guna menekan potensi kerugian, pihak manajemen PT. AP I LIA telah melakukan sejumlah upaya efisiensi. Misalnya, dengan mengurangi jam operasional bandara menjadi hanya 6 jam per hari. Mulai dari pukul 09.00 wita sampai 15.00 wita. “Termasuk meminta keringanan pembayaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) ke Pemkab Loteng, juga bagian dari upaya itu,” terangnya.

Disinggung perkiraan besaran kerugian tahun ini, Arif mengaku belum bisa mempredikasikan. Tapi jika melihat kondisi pandemi yang tidak kunjung membaik kerugian diperkirakan bakal lebih besar lagi. Pasalnya, efek pandemi Covid-19 aktivitas penerbangan di BIZAM belum juga bisa normal.

Sementara aktivitas penerbangan menjadi sumber utama pemasukan bagi BIZAM. Sehingga dengan kondisi saat ini, sulit untuk bisa mengenjot pemasukan. Walaupun untuk sekedar menutup biaya operasional bandara.

Ditambah dengan kebijakan pembatasan oleh pemerintah pusat membuat jumlah penerbangan di BIZAM terus menurun. Terlebih selama kebijakan PPKM di Pulau Jawa dan Bali jumlah kian berkurang. Karena penumpangan pesawat juga turun.

Sementara Pulau Jawa serta Bali merupakan rute tujuan penerbangan utama di BIZAM. Seperti Bali, Surabaya maupun Jakarta. “Saat ini tinggal beberapa maskapai saja yang masih melayani penerbangan di BIZAM,” katanya.

Memang tahun ini pemerintah tidak menutup penerbangan seperti pada tahun sebelumnya. Namun hal itu tidak menolong, karena tetap saja penerbangan di BIZAM tidak kunjung membaik. Dengan jumlah penumpang yang jauh di bawah angka normal. Bahkan dengan kondisi penerbangan pasca gempa bumi Pulau Lombok tahun 2018 lalu. (kir)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional