Pandangan Beberapa Sekolah di Mataram Soal Pungli

Mataram (suarantb.com) – Kasus dugaan pungli di SMPN 6 Mataram masih terus didalami Tim  Sapu Bersih (Saber) Pungli NTB. Kasus tersebut telah masuk dalam proses penyelidikan. Diduga tiap siswa di sekolah tersebut dimintai uang sumbangan sebesar Rp 300 ribu. Sumbangan tersebut akan digunakan untuk mendukung pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMP pada Mei mendatang.

Beberapa sekolah di Kota Mataram memiliki pandangan berbeda terkait pungli. Kepala SMAN 2 Mataram, Sahnan, M.Pd menuturkan harus ada mekanisme  yang ditempuh oleh sekolah jika akan menarik sumbangan atau dana dari siswa. Hal itu juga harus dikordinasikan dengan komite sekolah, selama sekolah membutuhkan pendanaan.

Iklan

“Tindakan itu tidak dapat dikatakan sebagai pungli,” ujarnya kepada suarantb.com.

Demi kemajuan sekolah, menurutnya orang tua atau wali murid harus diberikan ruang keterlibatan, namun harus juga dengan regulasi. Namun untuk pelajar dari keluarga tidak mampu tidak perlu dipaksakan. Data pelajar kaya dan miskin juga harus disiapkan.

Menurut Sahnan, negara belum memberikan ruang bagi donatur yang siap untuk menyumbang. Sementara SD dan SMP sangat membutuhkan hal itu. Khusus di sekolahnya, setiap jenis sumbangan telah memilki aturan. Sumbangan tersebut telah dibicarakan di awal tahun bersama wali murid. Untuk SMA dan SMK menurutnya tidak ada persoalan.

“Yang menjadi persolan di SD dan SMP,” ujarnya.

Salah satu problem pendidikan sekarang adalah penerapan sekolah gratis. Sekolah dituntut harus membuat anak didik pintar dan dilayani dengan baik. Namun negara belum mampu membiayai. Menurutnya tuntutan lebih berat dibandingkan perhatian pemerintah.

Penyelenggaran pendidikan harus dilaksanakan secara berimbang. Sekolah punya standar pembiayaan, sarana, dan pendidik. Undang-undang juga membolehkan adanya partisipasi orang tua, asal tidak dipaksa.

“Karena yang bertanggung jawab pada pendidikan nasional adalah pemerintah, orang tua dan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 7 Mataram, H. M. Sibawaeh mengaku belum pernah menarik sumbangan dalam bentuk apapun. Kalau pun ada, itu disebutnya sebagai sedekah dari para pelajar yang diberikan seikhlasnya.

“Rp 500 sampai Rp 1.000, seikhlasnya,” akunya.

Sumbangan dari murid dimanfaatkan untuk perbaikan musala. Ada rencana juga untuk tambahan biaya pemasangan server komputer. Hal itu juga dilakukan atas izin dan sepengetahuan komite sekolah.

Untuk mengembangkan sekolah, pihaknya hanya menggunakan dana BOS. Ketika pendanaan tidak mencukupi, maka proses pengembangan sekolah diberhentikan sementara. Kalau pun kurang, sekolahnya mengajukan proposal ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

“Sepanjang dana itu sesuai dan patut, insya Allah dinas membantu,” katanya.

Sibawaeh menjelaskan sekolahnya juga siap melaksanakan UNBK. Fasilitas seperti komputer dipinjam dari para guru dan siswa.

“Tiap kelas, bisa sampai 10 sampai 15 laptop yang dipinjamkan,” jelasnya.

Tidak hanya pinjaman berupa komputer jinjing, para guru juga meminjamkan uangnya demi pelaksanan UNBK. Hal ini mamacu semangat guru lain di sekolahnya untuk lebih serius mempersiapkan UNBK.

“Ada dana Rp 32 juta yang dipinjamkan oleh guru,” ungkapnya. (anh)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here