Paket Wisata Surfing Belum Dikelola Optimal

Seorang wisatawan bermain "Kite Surfing" di Pantai Kaliantan Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru, Selong, Lombok Timur, NTB, Selasa (18/10). Pada setiap bulan Maret hingga Oktober Pantai Kaliantan ramai dikunjungi wisatawan penggemar Kite Surfing asal Australia, Inggris, dan Amerika Serikat. Wisatawan penggemar Kite Surfing memberi predikat Kaliantan sebagai pantai yang memiliki kecepatan angin dan pemandangan terbaik kedua di Asia. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/kye/16.

Mataram (Suara NTB) – Pulau Lombok dinilai menjadi tempat Surfing terbaik di dunia. Sayangnya, paket wisata yang satu ini belum dikelola secara optimal.

Gulungan ombak pada pantai yang berjejer di pulau ini belum digarap maksimal. Ombak terbaik dunia yang terdapat di Lombok ini diibaratkan sebagai tambang emas yang dianggurkan. Sejumlah pemain Surfing, baik dari Bali maupun Lombok, menyayangkan ketika potensi tersebut belum digarap secara maksimal.

Iklan

“Kita ini mempunyai ombak kiri terbaik di dunia. Wisatawan asing menjulukinya The Best Left Surf in The World. Itu bule lho yang mengatakan seperti itu. Panjang ombaknya berputar sampai sejauh 250 meter,” tutur Herman, alias Ponk, Peselancar asal Lombok ketika dijumpai Suara NTB di Kedai Kopi La Fanda, Sabtu (29/10) malam.

Selain Ponk, pentolan olahraga Surfing asal Bali, Piping Irawan juga mengemukakan hal yang senada. Founder majalah Surfing Magic Wave ini mendesak, Masyarakat Lombok harus segera menggarap potensi “tambang emas” yang terdapat di tepi laut itu.

“Potensi ini bisa digarap maksimal, sepanjang ada dukungan dari Pemda. Masyarakat, terutama anak – anak muda di pesisir bisa disekolahkan, supaya mereka bisa mendapatkan lapangan kerja,” kata Piping di tempat yang sama.

Piping mengatakan, upaya menyekolahkan agar masyarakat pesisir terserap dalam lapangan kerja pada Industri Pariwisata, merupakan langkah strategis mengembangkan industri yang satu ini. Anak – anak muda di pesisir, bisa saja didik agar menjadi tenaga pemandu Surfing yang profesional. Selain begitu, mereka juga bisa diarahkan supaya terampil dalam memproduksi papan seluncur.

“Anak – anak muda kita, katakanlah yang terlibat merusakan ketentraman di daerah pariwisata itu lebih disebabkan karena memang mereka tidak memiliki uang di dompetnya,” kata Surfer yang kehilangan sepeda motor saat menjajaki berselancar di daerah Kuta, Lombok Tengah, belum lama ini.

Jika anak – anak muda di daerah wisata itu diberdayakan dengan baik, Piping yakin bahwa mereka tidak akan melakukan aksi – aksi kriminal. Anak – anak muda harus dilatih untuk terampil berselancar. Tujuannya, supaya mereka mampu menggarap potensi yang luar biasa di kawasan pesisir itu.

“Banyak objek wisata pantai yang memang menjadi lokasi Surfing yang bagus di Lombok ini. Sayangnya, kita kekurangan tenaga untuk menggarapnya. Pemerintah harus jeli dan melirik potensi ini,” pintanya.

Ombak di Lombok tidak seperti destinasi Surfing yang terletak di Hawai. Ombak di tempat itu sangat terbatas yakni hanya enam bulan. “Kalau kita disini bahkan mempunyai ombak selama 360 hari,” tandasnya.

Diskusi seputar Surfing dengan tajuk Hang Loose dalam helatan kegiatan Lombok Surf Gathering itu, memunculkan  banyak gagasan penting untuk mengoptimalkan pengelolaan paket wisata Surfing di pulau Lombok. Paket wisata yang satu ini harus digarap semaksimal mungkin, supaya dapat berkontribusi menambah jumlah angka Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui angka kunjungan wisatawan. Selain itu, potensi ini harus digarap secepat mungkin untuk membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Tidak perlu menunggu Tsunami seperti di Aceh. Lombok harus mengirimkan anak – anak mudanya untuk mengikuti sekolah Surfing. Kami siap menatar mereka dengan baik. Harapanya, supaya mereka mampu menggarap potensi alam yang luar biasa di daerah ini,” bebernya.

Selain Piping, hadir juga pentolan komunitas Lombok Surfing yakni Ebong. Diskusi seputar Surfing itu diselenggarakan untuk menggairahkan pengelolaan olahraga Surfing yang telah menjadi paket wisata kelas dunia. Kegiatan tersebut sengaja digelar oleh Sapta Edho, pencinta Surfing di Pulau Lombok. (met)