Padi Terendam Banjir, Petani di Lobar Terancam Merugi

Giri Menang (suarantb.com) – Banjir yang melanda beberapa wilayah di NTB pada Rabu, 14 Desember 2016 tidak hanya berdampak pada rumah warga. Tapi banjir juga merendam lahan pertanian warga. Ahmad, salah seorang petani asal Desa Bengkel, Lombok Barat terancam merugi. Pasalnya, padi miliknya yang siap panen justru terendam banjir.

Ahmad berharap bisa segera panen untuk meminimalisir kerugiannya. “Penginnya hari ini bisa panen, kalau tidak turun hujan ya bisa kita panen. Kalau dipanen sekarang ruginya hitungannya masih sedikit, tapi kalau tidak segera dipanen, nanti padinya busuk. Bisa rugi banyak,” jelasnya, Kamis, 15 Desember 2016.

Iklan

Melihat kondisi sebagian besar tanaman padinya yang jatuh, Ahmad pun terpaksa membayar buruh panen. Karena tidak memungkinkan untuk dipanen dengan menggunakan mesin. “Ini saya ndak punya pilihan jadinya, walaupun pakai tenaga orang buat manen. Per kwintal saya bayar Rp 45 ribu. Walaupun nanti butuh lebih lama, tidak apa-apa daripada dibiarkan,” jelasnya.

Ahmad mengaku ini kali pertama sawahnya terkena banjir. Padinya yang siap panen terendam banjir sejak Sabtu lalu (10 Desember 2016). Sawah seluas 92 are ini bukan miliknya. Pria berusia 45 tahun ini hanya bekerja menggarap lahan milik orang lain. Untuk tiga kali masa tanam, dua kali hasil panen menjadi jatahnya. Sedangkan hasil satu kali hasil panen menjadi bagian pemilik lahan.

Ia menjelaskan, untuk satu kali masa tanam hingga menjelang panen, ia mengeluarkan biaya sekitar Rp 17 juta. Dengan hasil penjualan padi yang telah dipanen sekitar Rp 20 juta. Jadi bisa dibayangkan untung yang diperoleh Ahmad untuk membiayai hidup istri dan kedua anaknya selama empat bulan hanya sekitar Rp 3 juta.

Jumlah yang terbilang sangat sedikit. Ditambah dengan bencana banjir ini, tentu penghasilan Ahmad semakin berkurang. “Tapi ini untungnya kena banjir saat padinya sudah siap panen. Kalau masih belum berisi, bisa rugi besar saya,” tambahnya.

Untuk membantu pendapatan keluarga, Ahmad juga membuka jasa cuci mobil dengan menyewa lahan. Per hari ia harus membayar Rp 60 ribu, padahal belum tentu dalam sehari ia bisa mendapatkan langganan. Jadi terkadang ia terpaksa berhutang untuk menutupi biaya sewa. Oleh karena itu, Ahmad berharap, pemerintah bisa memberikan bantuan untuknya dan para petani lain yang sawahnya terendam banjir.

“Saya berharap ada bantuan untuk petani, karena kita lebih sering rugi daripada untung. Bantuan sekedar untuk pupuk atau bibit saja sudah syukur. Karena selama ini saya belum pernah dapat bantuan dari pemerintah,” ungkapnya. (ros)