Pabrik Pengolahan Limbah Medis Ditargetkan Beroperasi Awal 2021

Madani Mukarom (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB menargetkan pembangunan pabrik limbah medis bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) tuntas dibangun Desember mendatang. Sehingga, pada awal 2021, pabrik pengolahan limbah dengan kapasitas 3 ton per hari ini sudah mulai beroperasi.

Kepala Dinas LHK NTB, Ir. Madani Mukarom, B.Sc.F., M. Si mengatakan, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M. Sc., telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Dirjen Pengelolaan Sampah dan Limbah B3. Dimana, Ditjen Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Kementerian LHK akan membantu NTB untuk peningkatan kapasitas SDM dan penyediaan peralatan pendukung hingga 2022 mendatang.

Iklan

‘’Desember sudah bisa beres pembangunan pabrik limbah ini. Januari, Februari mungkin sudah melayani pengolahan limbah B3 kesehatan yang biasa dikirim ke Jawa,’’ kata Madani dikonfirmasi Suara NTB, Senin, 19 Oktober 2020.

Ia menyebut, kapasitas pabrik pengolahan limbah medis yang dibangun di Lemer Sekotong Lombok Barat ini sebanyak 300 kg per jam. Dalam sehari, mesin akan beroperasi maksimal 10 jam. Sehingga, kapasitasnya sebesar 3 ton sehari.

Madani menyebut, saat ini sampah atau limbah medis dari seluruh rumah sakit di NTB sebanyak 9 ton per hari. Artinya, masih ada limbah medis yang belum bisa diolah di NTB karena kapasitas mesin hanya 3 ton per hari.

Sehingga, nantinya akan ada investor yang akan membangun pabrik pengolahan limbah medis dengan kapasitas yang lebih besar. Investor tersebut, nantinya juga akan mengelola pabrik yang dibangun dengan bantuan Kementerian LHK tersebut.

Dari hasil kerja sama pengelolaan pabrik pengolahan limbah tersebut, Pemprov akan mendapatkan pemasukan berupa Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Selain membangun pabrik pengolahan limbah medis, kata Madani, Gubernur juga telah menandatangani MoU dengan salah satu investor yang akan mengolah limbah batu bara hasil pembakaran PLTU yang ada di NTB.

Rencananya, investor tersebut untuk sementara akan mendirikan pabrik pengolahan limbah batu bara di STIPark NTB di Banyumulek Lombok Barat, karena lokasinya cukup dekat dengan PLTU Jeranjang.

Investor tersebut nantinya akan menggandeng BUMD milik Pemprov NTB, yaitu PT. Gerbang NTB Emas. Hasil pengolahan limbah batu bara nantinya akan dibuat menjadi genteng, papin block, batako dan campuran semen.

“Sementara akan dibangun di STIPark NTB. Ke depan, kita dorong di Lemer. Nanti di sana jadi pusat industrialisasi sampah,” ujarnya.

Madani mengatakan dua program Pemprov NTB dapat diwujudkan dengan pembangunan industri pengolahan sampah ini. Yaitu,  program zero waste dan industrialisasi dikawinkan. (nas)