Pabrik Pengolahan B3 Beroperasi, Sekarang, 75 Persen Limbah Medis Diolah di NTB

Gubernur NTB, H.Zulkieflimansyah bersama Wagub, Hj.Sitti Rohmi Djalilah dan undangan yang hadir pada peresmian pabrik pengolahan limbah medis  Bahan Beracun dan Berbahaya (B3)  harus berjalan kaki sekitar 3 Km menuju pabrik, karena akses jalan relatif sulit dilalui kendaraan. (Suara NTB/ist).

Mataram (Suara NTB) – Pabrik pengolahan limbah medis  Bahan Beracun dan Berbahaya(B3) dengan kapasitas 3 ton per hari, kini sudah beroperasi di NTB. Dengan beroperasinya pabrik tersebut, sekitar 75 persen limbah medis yang dihasilkan fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) di NTB, kini sudah bisa diolah di dalam daerah.

Pabrik pengolahan limbah medis tersebut dibangun di Dusun Koal, Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat (Lobar). Keberadaan pabrik tersebut menjadi impian dalam mewujudkan NTB Asri dan Lestari.

Iklan

Turut hadir juga Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc dan Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 (PLB3), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Rosa Vivien Ratnawati.

Wagub mengatakan, program NTB Asri dan Lestari serta  NTB Hijau berbasis gerakan. Agar hidup bersih, pengelolaan sampah dan limbah menjadi kesadaran kolektif masyarakat dalam indeks kualitas lingkungan hidup.

Di hilir, Pemprov NTB juga telah menyiapkan  strategi pengolahan dan pengurangan sampah. Seperti pabrik pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) berteknologi pyrolisis, dan lain lain yang berbasis industri.

Namun demikian, Wagub mengakui bahwa terdapat beberapa kendala yang harus segera diselesaikan. ‘’Kendalanya ketersediaan listrik, air, bahan bakar, sinyal komunikasi dan akses jalan yang akan diperbaiki,’’ katanya.

Wagub menargetkan limbah sebanyak 7,2 ton sehari bisa diolah di tempat ini setelah seluruh fasilitas pendukung tadi terpenuhi.

Sementara itu, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PLB3) Kementerian LHK, Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, pabrik pengolah limbah medis ini juga berdampak signifikan dalam rangka penanganan pandemi. Selama pandemi, jumlah limbah medis Covid-19 se-NTB sebanyak 295 kilogram per hari.

Selama ini katanya, sebagian besar limbah medis NTB dikirim ke Jawa dan menggunakan jasa pemusnah limbah medis di sana. ‘’Pabrik ini sudah punya izin dan bisa menerima limbah medis. Kementerian juga sudah menyiapkan anggaran khusus untuk operasional pengumpulan limbah selain bantuan tiga kendaraan operasional,’’ ujarnya.

Saat ini, kemampuan incinerator dapat mengolah limbah medis sebanyak 300 kg/jam dan beroperasi selama 24 jam ditambah lagi fasilitas pendingin (cold storage) yang dapat menyimpan limbah selama 90 hari sebelum diolahmusnahkan.‘’Semoga dengan hadirnya   pabrik pengolah B3, semua limbah medis bisa diolah di sini,’’ harap Vivien.

Untuk itu, ia berharap Pemprov NTB dapat berkoordinasi dengan baik terkait limbah Covid 19 di pelayanan kesehatan dengan kabupaten/ kota agar penularan melalui limbah dapat dicegah.

Kepala Dinas LHK NTB, Ir. Madani Mukarom, B.Sc.F., M.Si., yang dikonfirmasi Suara NTB, Senin, 13 September 2021 malam, mengungkapkan limbah medis mengalami peningkatan akibat pandemi Covid-19. Ia menyebutkan, volume limbah medis di NTB saat ini sekitar 5 ton per hari.

Dengan kapasitas pabrik pengolahan limbah medis yang berada di Sekotong sebesar 3 ton per hari. Maka sekitar 75 persen  limbah medis yang ada di NTB diolah di pabrik tersebut.

‘’Sekitar 25 persen yang masih dikirim ke Jawa. Karena sekarang limbah medis bertambah sampai satu ton per hari,’’ ungkapnya.

Madani menyebut, pabrik pengolahan limbah medis tersebut kapasitasnya 200 – 300 kilogram per jam. Dalam sehari, mesin dapat beroperasi selama 24 jam. Selain itu, Madani mengatakan sudah ada investor yang berminat untuk membangun pabrik limbah medis di NTB.

Namun, pihaknya mengarahkan agar investor tersebut membangun pabriknya di Pulau Sumbawa. Sehingga, limbah medis dari Fasyankes yang berada di Pulau Sumbawa tidak perlu dibawa ke pabrik yang ada di Sekotong.

‘’Sudah ada MoU dengan investor. Kita dorong bangun di Pulau Sumbawa. Sehingga tak terlalu jauh mengangkut limbah medisnya,’’ ujarnya.

Madani menyebutkan, seluas 147 hektare disiapkan untuk industri pengolahan sampah di Dusun Koal, Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong Lobar. Saat ini, baru 4,5 hektare yang digunakan untuk tempat pembangunan pabrik limbah medis tersebut.

Pihaknya sedang merancang master plan kawasan industri pengolahan sampah di daerah tersebut. ‘’Bahkan kawasan industri halal juga bisa di sini. Bisa juga untuk pembangunan industri pakan ternak,’’ terangnya. (nas)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional