Pabrik Gula Dompu Berpotensi Lambungkan Pertumbuhan Ekonomi NTB

Mataram (Suara NTB) – Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTB memproyeksikan kontribusi pabrik gula di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu akan mampu menopang pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 1,5 persen per tahun. Kontribusi sebesar itu diperoleh setelah dilakukan analisis setengah dari kapasitas produksi pabrik gula tersebut.

Hal tersebut terungkap dari penjelasan Kabag Assessment Ekonomi  Bank Indonesia Perwakilan NTB, D. Aditya N dalam diskusi terbatas Harian Suara NTB dengan tema ‘’Pertumbuhan Ekonomi dan Strategi Membangun Dompu’’ di Kantor Harian Suara NTB, Sabtu (6/8/2016). Aditya mengungkapkan, pihaknya sudah mensimulasikan seberapa besar kontribusi pabrik gula tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi NTB.

Pabrik gula yang ada di Dompu memiliki kapasitas produksi 5.000 ton  per hari. Bank Indonesia mensimulasikan kapasitas produksi setengahnya, yakni 2.500 ton per hari dengan harga gula mengacu pada standar harga tahun 2010 sebesar Rp 8.000 per kilogram. “Setelah kita running model, konstribusinya sekitar 1,5 persen untuk pertumbuhan ekonomi NTB, jadi cukup besar,’’ ungkapnya.

Ia menjelaskan, simulasi yang dilakukan untuk melihat pengaruh keberadaan pabrik gula tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi NTB saja. Menurut Aditya, kontribusi bagi Dompu sendiri akan jauh lebih besar dari itu. ‘’Jadi sangat besar sekali pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi NTB. Bahkan nanti Dompu juga  bisa lebih besar. Karena di NTB saja bisa sampai 1,5 hingga 2 persen, dengan kapasitas pabrik gula separuh dari yang ada,’’ terangnya.

Berdasarkan data statistik dan fakta di lapangan, kata Aditya, pertumbuhan ekonomi Dompu banyak ditopang oleh sektor pertanian. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Dompu ditopang 39 persen dari sektor pertanian dan sektor perdagangan 14,94 persen. Dengan melihat hal ini, Aditya mengatakan, ekonomi Dompu ke depannya on the track. Ia mengatakan, pemda tidak perlu fokus terhadap banyak sektor, tetapi cukup kepada beberapa sektor yang menjadi potensi daerah seperti jagung dan tebu.

Produktivitas jagung di Dompu dalam satu hektar cukup besar. Aditya melihat, peran perbankan sebagai lembaga pembiayaan dalam pengembangan komoditas jagung ini juga  semakin besar di Dompu. Data Bank Indonesia Perwakilan NTB, hingga Juni ini pertumbuhan kredit mencapai 20,67 persen yoy (year on year) jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan total mencapai Rp 1,05 triliun. Selain perbankan, keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga cukup bagus. “Itu mengembangkan lembaga lokal untuk mengatasi persoalan pada pembiayaan,”ujarnya.

Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mendukung keberadaan pabrik gula di Dompu perlu ditingkatkan. Sebenarnya, kata Aditya,  posisi SDM Dompu sudah cukup bagus di NTB. Namun, masih berada di bawah Kota Bima dan Kota Mataram. Persoalannya adalah kekurangan tenaga kerja untuk pemanen tebu lulusan SMA ke bawah.

Ia mencontohkan, seperti Maluku yang perekonomiannya ditopang sektor kelautan. Di mana kapal-kapal  pencari ikan membutuhkan tenaga kerja lulusan SMA khusus, namun yang terjadi banyak para pekerja kapal yang dari lulusan SMA umum. Sehingga di datangkan pekerja dari kabupaten/kota terdekat. Untuk itu, ia menyarankan perlu peningkatan kualitas SDM dan hal ini berhubungan dengan ketersediaan sekolah.

‘’Pendekatan ke masyarakat tentang pentingnya pendidikan formal. Karena kalau saya lihat di sini, lebih mementingkan pendidikan agama dibandingkan pendidikan formal. Disini ada persoalan sosial, ketika banyak orang tua jadi TKI anaknya tidak terurus. Meskipun ada duit, mereka memilih tidak sekolah. Apalagi ketika panen padi, banyak anak yang bolos. Kalau kita biarkan, nanti ahli-ahlinya dari luar NTB namun ahli dari NTB sendiri tidak nampak,” tandasnya.

Kepala Bidang Neraca Wilayah BPS NTB, Isa Anshory mengatakan pertumbuhan ekonomi NTB terus meningkat. Secara nasional, pertumbuhan ekonomi triwulan I sebesar 5,18 persen. Sementara  itu, pertumbuhan ekonomi di NTB sebesar 9,92 persen dengan memasukkan tambang dan konsentrat. Tetapi jika dikeluarkan maka pertumbuhan ekonomi NTB sekitar 7,64 persen. Menurutnya, sektor pertanian, perdagangan, transportasi dan pariwisata semakin meningkat dalam menopang pertumbuhan ekonomi NTB.

Untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, menurut Isa, perlu digerakkan usaha padat karya, bukan saja usaha padat modal. Ia mencontohkan pengembangan sektor pertanian, seperti jagung di Dompu potensinya cukup besar dan dapat dikembangkan sehingga dapat menjadi ikon nasional. Dikatakan, dulu Provinsi Gorontalo pernah menjadi daerah penghasil jagung nasional. Namun sekarang, sudah mulai pudar.

“Mungkin Dompu bisa mengambil kesempatan ini untuk bisa mengangkat daerah kita. Tetapi Pak Bupati, kami mungkin bisa mengusulkan agar pertumbuhan ekonomi yang dari jagung bisa berkembang dengan hilirisasi produk pertanian kita. Bagaimana agar hasil yang didapatkan dari jagung ini diolah jadi hasil pakan. Atau bisa diolah jadi bahan makanan. Kita bisa ekspor ke luar daerah atau ke luar negeri, sehingga kita tidak hanya menjadi penghasil bahan baku. Tetapi sudah menjadi penghasil barang-barang industri,” sarannya.

Begitu juga dengan pengembangan tanaman tebu. Dikatakan, Dompu bisa menjadi daerah penghasil gula di Indonesia, terlebih dengan berdirinya pabrik gula di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu.  Hasil pantauan yang dilakukan, ada kecenderungan nilai tukar petani NTB terus meningkat. Juli lalu, nilai tukar petani secara gabungan sebesar 157,52. Khusus untuk tanaman bahan makanan  seperti  padi dan jagung  sebesar 127,89.

Artinya, kata Isa, ada peningkatan kesejahteraan petani meskipun masih ada persoalan mengenai harga jagung yang masih rendah. Menurutnya, fokus pembangunan Pemkab Dompu yang menjadikan sektor pertanian yakni mengembangkan komoditas jagung dan industri  gula patut didukung. Meskipun ada persoalan antara petani tebu dengan peternak sapi tetapi ia yakin hal itu akan mampu diatasi dengan baik oleh pemerintah daerah setempat.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD NTB, Mori Hanafi, SE, M.Comm mengatakan geliat pembangunan di Dompu  cukup progresif. Jika dulunya berada pada urutan 9 dari 10 kabupaten/kota di NTB, sekarang Dompu berada pada urutan kedua. Menurutnya, pembangunan ekonomi Dompu bisa berkembang cukup progresif lantaran Pemda membangun dengan potensi yang dimiliki.

‘’Jadi dia membangun berada pada posisi yang sangat tepat. Apa yang dilakukan oleh Pemerintah Dompu sudah pada jalur yang tepat. Karena dia membidik fokus pembangunan di sektor pertanian dalam arti yang luas,’’ kata Mori.

Menurutnya, Dompu tidak muluk-muluk dalam menentukan prioritas pembangunan. Pemkab setempat memulai dengan mengembangkan komoditas jagung dan ternak. Kesuksesan Dompu dalam mengembangkan komoditas jagung sudah terkenal sampai tingkat nasional. Meskipun Dompu punya memiliki potensi lain seperti sektor pariwisata, daerah ini tetap fokus untuk mengembangkan sektor pertanian khususnya tanaman jagung.

Mori mengatakan, Dompu bisa sukses mengembangkan komoditas jagung karena telah memiliki sasaran yang tepat. Kemudian, sekarang mengembangkan perkebunan tebu beserta pabrik pengolahannya. Dikatakan, hal ini cukup luar biasa di tengah sulitnya pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan. Saat ini, kata anggota DPRD NTB Dapil Bima dan Dompu ini, banyak orang yang sudah berbondong-bondong ke sana untuk bekerja di pabrik gula tersebut.

Mori juga menyebut, pertumbuhan ekonomi di Dompu berkualitas, berbeda dengan pertumbuhan ekonomi NTB. Meskipun pertumbuhan ekonomi NTB tertinggi di Indonesia namun dinilai kurang berkualitas lantaran tidak dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. ‘’Pertumbuhan ekonomi di Dompu ini bisa dirasakan oleh masyarakat paling bawah. Kalau NTB hanya dinikmati oleh kalangan atas,’’ ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi Dompu yang berkualitas itu, lanjut Mori, karena pemerintah setempat membidik sektor yang pas untuk dikembangkan. Sehingga ekonomi itu tumbuh dari bawah.  Karena tumbuh dari bawah, maka pertumbuhannya berkualitas dan otomatis terjadi pemerataan. Jika terjadi pemerataan ekonomi, maka otomatis kemiskinan juga berkurang. ‘’Pengurangan angka kemiskinan di Dompu ini juga tidak semu  tapi berkualitas. Nah inilah yang terjadi di Dompu ini,’’ tambahnya.

Mori melihat Dompu sukses mengembangkan komoditas jagung dan sapi karena memiliki potensi  di sana. Ia mengingatkan supaya Dompu tidak perlu mengembangkan rumput laut, karena itu bukan potensinya. Sehingga, ia menyarankan Bupati Dompu tetap fokus mengembangkan komoditas jagung serta tebu.

‘’Jadi tidak usah membuang-buang waktu ke sektor lain. Fokus  di sektor pertanian ini. Jadi pikirannya sederhana, tetapi hasilnya luar biasa. Kenapa?  Karena ada konsistensi. Biarlah kabupaten lain yang mengurus rumput laut,’’ pesannya.

Pemerhati Ekonomi NTB, Dr. M. Firmansyah, M.Si mengatakan, ada sesuatu yang luar biasa di Dompu sehingga ada investor yang mau membangun pabrik gula di sana. Menurutnya, investor membangun suatu pabrik karena bahan bakunya pasti ada di sana. Firmansyah menyarankan, Dompu membuat jagung sebagai ikon.

Jika ada investor jagung maka akan langsung berpikir tentang Dompu. Menurutnya, mempertahankan reputasi Dompu sebagai daerah penghasil jagung sangat  penting dalam pemasaran daerah. Menurutnya, Dompu perlu belajar dari Gorontalo yang mulai redup sebagai daerah penghasil jagung.

Mengenai persoalan kekurangan tenaga kerja di pabrik gula Dompu, kata Firmansyah bukan hanya terjadi di Dompu dan NTB. Tetapi hal itu terjadi secara nasional khususnya tenaga kerja di sektor pertanian. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram ini mengatakan, dirinya ingin membuat gerakan besar untuk menggerakkan peminat di sektor pertanian ini. Ia mencontohkan, di Unram (Universitas Mataram) sangat sedikit mahasiswa yang memilih jurusan pertanian. Ia mengusulkan mungkin di Dompu bisa dibuka program studi pertanian.

Terkait pertumbuhan ekonomi berkualitas, Firmansyah mengatakan perputaran uang harus menyasar seluruh masyarakat. Berbicara pertumbuhan ekonomi NTB, ia yakin pertumbuhannya berkualitas. Karena pertumbuhan ekonomi di Dompu bergerak dari bawah. ‘’Sehingga kalau kita ingin kualitas pertumbuhan ekonomi kita, maka harus kita sasar mulai dari paling bawah,’’ ucapnya. Menurut Firmansyah, Dompu diharapkan sebagai daerah terdepan dalam hilirisasi dan industrialisasi pertanian. (tim)