Pabrik Beras Terbesar Hadir di NTB, Solusi Atasi Anjloknya Harga Gabah di Musim Panen

Pekerja pabrik penggilingan beras modern, UD. Fajar Samudera mengemas beras premium yang digiling. (Suara NTB/nas)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Industrialisasi di sektor pertanian mulai berkembang di NTB. Pabrik penggilingan padi terbesar di Nusa Tenggara kini telah berdiri di Desa Jorok Kecamatan Unter Iwes Kabupaten Sumbawa.

Pabrik penggilingan padi yang menghasilkan beras premium tersebut dibangun UD. Fajar Samudera dengan investasi sebesar Rp20 miliar. Kehadiran pabrik beras tersebut diharapkan menjadi solusi atas anjloknya harga gabah setiap musim panen.

Iklan

“Kapasitas produksi 5 ton per jam. Sehari ada 7 – 8 jam kerja, kita bisa memproduksi 40 ton beras kualitas premium. Kita memproses beras asli lokal Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat,” kata Owner UD. Fajar Samudera, Zahran ditemuai di lokasi pabrik, Jumat, 3 September 2021.

Ia mengatakan gabah yang digiling merupakan hasil produksi petani di Sumbawa dan KSB. “Kita langsung melakukan pengeringan untuk mencapai kualitas terbaik, premium. Kami tidak melakukan pembelian barang yang telah masuk ke lumbung. Karena itu terjadi sedikit pembusukan, tidak baik untuk kita konsumsi,” jelasnya.

Zahran menjelaskan pihaknya bermitra langsung dengan pengusaha kecil yang ada di Sumbawa dan KSB. Selama ini, katanya, padi yang dihasilkan petani di dua kabupaten tersebut terus diserap.

Ia menyebutkan produksi gabah di NTB surplus. Sehingga tidak ada kekurangan dari sisi pasokan bahan baku. Untuk Kabupaten Sumbawa sendiri menghasilkan 270 – 280 ribu ton gabah per tahun.

Sementara, gabah yang dibeli oleh Bulog di Sumbawa, hanya 30 – 35 ton setara beras. Sehingga masih banyak gabah yang perlu diserap. Itulah yang kemudian dibeli oleh pabrik dengan menggandeng usaha kecil.

Beras yang dihasilkan oleh pabrik tersebut untuk memasok kebutuhan masyarakat di Sumbawa, KSB dan Pulau Lombok. “Kami berharap ini membantu kestabilan harga dan peningkatan harga gabah di sektor pertanian,” katanya.

Beras yang dihasilkan pabrik tersebut juha diserap oleh Pemprov NTB sekitar 20 ton. Beras tersebut kemudian diberikan kepada ASN lingkup Pemprov NTB dalam bentuk tunjangan beras.

Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) NTB, Dr. Najamuddin Amy, S.Sos., M.M., mengatakan Pemprov NTB sedang menggalakkan gerakan bela dan beli produk lokal. Hal ini dilakukan untuk membantu petani agar pada saat musim panen harga gabah tidak anjlok.

“Salah satu ikhtiar di tengah pandemi yang bisa dilakukan Pemprov NTB dengan membeli beras lokal. Di mana, pabrik penggilingan padi ini membeli gabah-gabah petani yang ada di Sumbawa. Kemudian diolah menjadi beras premium dan medium,” kata Najamuddin.

Dijelaskan, gerakan bela dan beli produk lokal dimulai dari langkah yang kecil. Sekarang, kata Najamuddin, ASN Pemprov NTB tidak lagi diberikan uang untuk tunjangannya. Tetapi tunjanganya diberikan dalam bentuk beras.

“Sekarang adalah bulan kedua, seluruh ASN Pemprov NTB tidak lagi diberikan uang untuk tunjangannya. Kembali seperti dulu mereka membeli beras lokal dari tunjangannya,” jelasnya. (nas)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional