Otoritas Pelabuhan Lembar Berlakukan Pemeriksaan Berlapis

Aktivitas pelabuhan Lembar (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Dampak kebijakan Gubernur Bali melakukan pembatasan masuk ke Bali melalui pelabuhan Padangbai berimbas signifikan terhadap penumpang yang menyeberang melalui pelabuhan Lembar. Jumlah penumpang mengalami penurunan hingga 58 persen. Pasalnya, banyak penumpang yang menyeberang ke Bali membatalkan niatnya ke padangbai.

Otoritas pelabuhan sendiri sudah mengimbau kepada para pengguna jasa agar tidak berangkat ke Bali kalau tidak ada keperluan yang penting. GM PT ASDP Yulianto ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 31 Maret 2020 mengatakan terkait diberlakukanya kebijakan Gubernur Bali yakni membatasi warga masuk Bali, pihaknya sudah melakukan imbauan-imbuan kepada pengguna jasa yang menyeberang di lintas Lembar-Padangbai agar menunda keberangkatan jika tidak ada keperluan penting.

Iklan

“Dengan pembatasan penumpang yang ke Lembar-Padangbai maupun sebalik ada penurunan sampai 58 persen,” jelas dia. Apakah Lembar akan memberlakukan kebijakan sama seperti di Padangbai? Pihaknya selaku operator tentunya semua mengikuti kebijakan pemerintah. Kalau memang dilakukan pengurangan atau pengetatan maka pihaknya akan melakukan sesuai kebijakan pemerintah.

Terkait pengawasan di pelabuhan yang dinilai masih longgar, pihaknya dengan tegas membantah. Pasalnya otoritas pelabuhan bersama KKP dan aparat (TNI-Polri) tetap memberlakukan pemeriksaan dan pengecekan sesuai ketentuan.

Bahkan kata dia, pemeriksaan dilakukan berlapis, mulai dari di pintu masuk dan di dalam kapal. Pihaknya melakukan penyemprotan disinfektan, baik terhadap penumpang baik pejalan kaki maupun di dalam kendaraan. Termasuk kata dia pihaknya menyemprot kendaraan di pintu masuk dan pintu keluar.

“Di pelabuhan sudah disiapkan tiga bilik disinfektan, selain itu pemeriksaan juga menggunakan thermo gun,”ujar dia.

Lebih jauh dijelaskan, terkait pemeriksaan penumpang dilakukan pada saat keberangkatan. Sebab keberangkatan di Lembar diperiksa, begitu pula penumpang dari pelabuhan Padangbai dicek.

Penumpang yang naik mudah diperiksa karena masuknya secara berangsur-angsur. Sedangkan untuk penumpang turun tidak diperiksa. Sebab, kata dia pemeriksaan saat turun ini kurang efektif karena tidak bisa menjangkau semua penumpang. Awalnya, dilakukan pemeriksaan baik terhadap penumpang yang turun dan naik, namun kurang terkontrol dengan baik.

“Sebab kapal belum berangkat (penumpang masih naik kapal), kapal dari padangbai datang lagi, itu mau lari kesana lagi kan ndak bisa terjangkau,”ujar dia. Diakui bukan disebabkan tim terbatas, namun alat thermo gun yang terbatas.

Tidak saja pemeriksaan penumpang saat naik kapal, namun di kapal pun para penumpang kembali diperiksa oleh pihak operator pelayaran (perusahaan). Seperti kapal ASDP, pihaknya melakukan pengecekan lagi suhu tubuh oleh para penumpang.

Tidak saja memeriksa pemumpang, kapal juga sesuai SOP menyiapkan ruang isolasi. Ketika ada penumpang yang suhu tubuhnya tinggi, operator langsung berkoordinasi dengan KKP. Sehingga ketika kapal baru sandar, KKP naik untuk memeriksa warga tersebut. “Nahkoda pun punya alat pemeriksaan,” ujar dia. (her)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional