Orgen Tunggal Picu Konflik, Begini Sikap Bupati Bima

Bima (Suara NTB) – Hiburan malam yang diisi orgen tunggal di wilayah Kabupaten Bima kerapkali menimbulkan gesekan kelompok antar masyarakat. Bahkan tidak sedikit menimbulkan ketegangan antar kampung.

Seperti yang terjadi di wilayah Kecamatan Wera. Belum lama ini pembacokan terjadi saat acara malam yang berujung ketegangan antar kampung. Beruntungnya kejadian itu tidak meluas karena para pelakunya cepat diamankan oleh aparat Kepolisian.

Iklan

Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri menyadari hal itu. Ia mengakui masih adanya sebagian masyarakat dan pemuda di sejumlah desa yang masih menggelar hiburan malam diisi orgen tunggal hingga saat ini.

“Sebenarnya sudah ada peraturan, tapi sebagian elemen muda tidak mengindahkan. Soal ini kita kembalikan ke masyarakat,” katanya kepada Suara NTB usai Dialog Penguatan Kemitraan antara Pemerintah dan Organisasi Non Pemerintah menuju Bima, Jumat, 29 Juni 2018.

Menurut Bupati, pihaknya terus mengingatkan seluruh perangkat di desa. Mulai tingkat RT, RW, Kepala Dusun hingga Kepala Desa agar mampu mendeteksi dini dan mencegah hal-hal yang memicu terjadinya konflik.

“Jika tidak mampu diharapkan berkoordinasi dengan pemerintah daerah melalui Kecamatan,” katanya.

Meski demikian, konflik atau perang antar kampung di wilayah Bima sudah sedikit menurun ketimbang tahun sebelumnya. Misalnya, perang kampung antara Desa Risa dan Desa Dadibou Kecamatan Woha yang kerap terjadi tiga tahun belakangan ini.

Dikatakannya, dua desa tetangga itu sudah tidak lagi terlihat adanya ketegangan. Persoalan itu menurut Bupati bukan karena warga takut kepada aparat keamanan. Tapi mereka menyadari apa yang dilakukan tidak akan memberikan manfaat. “Yang jelas tidak ada keterpaksaan. Ini semua muncul dari kesadaran warga,” pungkasnya. (uki)