Organda Minta BRT Jangan Beroperasi Dulu

Mataram (Suara NTB) – DPD Organisasi Angkutan Darat (Organda) NTB meminta BRT jangan beroperasi dulu dalam waktu dekat ini sebelum ada penyelesaian yang juga berkaitan dengan angkutan kota (angkot) maupun angkutan pedesaan (angdes) yang rencananya akan dijadikan kendaraan umpan (feeder) bagi BRT. Demikian disampaikan Ketua DPD Organda NTB, Antonius Zaremba, Rabu, 18 Januari 2017 ditemui di Kantor Walikota Mataram.

“Kita masih tidak akan berikan dulu beroperasi sebelum ada penyelesaian dulu. Kita pending dulu, cooling down dulu,” ujarnya. Operasional BRT memang telah dihentikan sementara sejak insiden pemukulan sopir BRT oleh sopir angkot pada Desember 2016 lalu.

Iklan

Antonius mengatakan pihaknya ingin mencari solusi yang paling tepat sehingga dengan keberadaan BRT ini, angkot maupun angdes tidak merasa dirugikan.

“Supaya kita betul-betul cari (solusi) yang pas. Jadi di satu sisi angkot tidak dirugikan, angdes tidak dirugikan. Insya Allah kita sama-sama perjuangkan, namanya kita sama-sama cari rezeki, pengemudi juga cari rezeki,” ujarnya.

Saat pertemuan belum lama ini bersama para sopir angkot, sopir angdes, Dinas Perhubungan (Dishub) NTB, dan Dishub Kota Mataram, Antonius mengatakan para sopir angkot tetap tidak setuju BRT kembali beroperasi. Organda juga memahami keberadaan BRT ini sebagai salah satu upaya pemerintah mengurangi kemacetan dalam kota.

BRT ini juga memang dihajatkan sebagai angkutan khusus bagi anak-anak sekolah mengingat saat ini banyak anak-anak sekolah yang membawa kendaraan sendiri ke sekolah seperti sepeda motor.

“Ini masih kita carikan solusi. Saya juga tidak akan mematikan usaha pengusaha-pengusaha angkot dan angdes, itu juga bagian dari Organda. Persoalan-persoalan terkait angkot maupun angdes ini memang cukup dilematis karena banyak perubahan tiap tahun. Kita carikan solusilah,” jelasnya.

Terkait rencana menjadikan angkot sebagai kendaraan pengumpan, Antonius menyampaikan pihaknya juga masih merumuskan pola yang tepat sehingga dapat berfungsi maksimal.

“Ini sedang kita rumuskan bagaimana caranya apakah nanti dari door to door dari perumahan ke halte, ini masih kita rundingkan sama mereka,” ujarnya.

“Kita sedang cari rumusan biar sama-sama baik. Kita juga tidak inginkan dia (angkot/angdes) mogok,” tambahnya. Dishub Kota Mataram juga sedang menyusun Perwal terkait angkot yang akan dijadikan angkutan pengumpan. (ynt)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional