Organda Khawatir Terjadi Gesekan Angkot dan BRT

Mataram (Suara NTB) – Wacana beroperasinya Mataram BRT (Bus Rapid Transit) 1 November pekan depan berpotensi memunculkan masalah baru. Angkutan kota yang kondisinya hidup segan mati tidak mau, justru terancam kehilangan penumpang. Pasalnya, Bus Trans Mataram menggunakan trayek angkot. Persoalan lainnya, tak ada jalur khusus bagi bus ini.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Mataram, Suratman Hadi, tidak mempermasalahkan BRT beroperasi 1 November pekan depan. Dengan catatan bahwa, Pemkot Mataram dan Pemprov NTB memperhatikan eksistensi dari angkutan angkot. Dia melihat, kondisi angkot saat ini tidak seperti beberapa tahun sebelumnya. Persaingan moda transportasi seperti taksi, ojek dan lain sebagainya justru mengurangi pendapatan sopir.

Iklan

“Silahkan saja beroperasi sepanjang angkot juga diperhatikan,” katanya, Rabu, 26 Oktober 2016.

Suratman mengingat betul janji Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika, angkot boleh mengangkut penumpang di jalur pinggir dan masuk ke tengah. Hingga saat ini, janji tersebut sebatas wacana. Menurut pria berambut putih ini, apabila angkot dan BRT beroperasi di satu trayek, dikhawatirkan terjadi gesekan. “Ini masalah satu belum selesai, lagi muncul masalah baru,” sesalnya.

Pengoperasian BRT ini lanjut Suratman, ada dua kemungkinan. Pertama, Pemerintah terkesan memaksakan Bus Trans Mataram. Padahal, regulasi dan sarana prasarana serta perhitungan cost lainnya belum tuntas diselesaikan. Kedua, pemerintah ingin menghilangkan atau mengaburkan image dinilai gagal mengeksekusi program Pemerintah Pusat. Satu hal dikhawatirkan, 25 bus tersebut mangkrak dan berpotensi jadi temuan.

Konsekuensi jika ini terus dipaksakan, justru kemacetan bakal bertambah. Hal lain juga perlu diperhatikan, beroperasi BRT ini jangan sampai niat pemerintah membantu masyarakat justru merugikan pengusaha lokal. Jelas itu berdampak terhadap pengangguran, kemiskinan dan kriminalitas.

Ia mengaku, sudah berungkali berkoordinasi dengan Dishubkominfo tapi belum ada kejelasan apapun. Pengoperasian BRT telah disampaikan ke anggota dan berbagai respon muncul dari pengusaha dan sopir angkot. “Apa kira – kira dampak kepada para pengusaha. Kita sudah sampaikan ke pemerintah,” ujarnya. (cem)